Di Ujung Jalan Itu

selamat pagi Indonesia
Di jalan merah berbatuan
Aku temukan kerikil2 harapan
landai nian, tanah, tepi, sungai
Mendera menggapai tujuan
Seperti roda berputaran
Aku yang kini menggapaimu
Tersungkur dalam pangkuanNya
Bahwa benar janjiMu tiada terbaca
Di ujung jalan itu…

 

Kami Masih Melawan Asap

 

Puisi oleh Suharno 

Setiap hari kami mengutuki keadaan dan meratap. Pedih perih mata kami karena asap. Kering kerontang kerongkongan kami karena asap. Anak-anak tersekat dalam dinding rumah-rumah karena asap. Anak-anak sekolah belajar bersama udara menyengat. Para pekerja terpaksa menghirup asap supaya tetap dapur berasap. Udara-udara kami sekarang sudah mencekik leher. Merasuki kami dari bayi-bayi hingga orang tua megap-megap. Suara-suara kami parau karena asap tak berkesudahan. Ini seperti racun yang sengaja ditebar untuk menghukum rakyat. Rakyat yang tidak berdaya karena kekuasaan orang-orang terlaknat.

Seperti inikah udara di NKRI harga mati. Seperti inikah manusia diperlakukan di negara NKRI harga mati. Ataukah harga kematian kami yang murah dan tak berharga. Untuk sekadar mencari pembenaran, siapa benar dan salah? Bahwa Derita-derita kami karena asap adalah takdir Tuhan. Terimalah dan nikmati saja, ini biasa, tradisi saat berganti musim. Tahun demi tahun, generasi ke generasi, asap tetap disantap. Seperti hidangan yang dipaksa nikmat nyatanya seperti kiamat. Sementara wakil-wakil rakyat dan para pemimpin tetap dalam nikmat. 

Asap hanya untuk rakyat melarat, suara teriakan kami hanya seperti mayat. Suara tinggi hanya akan menuai petaka, dipukul mundur oleh aparat. Dianggap tidak beradap, melanggar aturan, dan disebut keparat. Pemimpin dan wakil kami tetap tak percaya kami sekarat. Mata-mata mereka buta akan kemanusiaan karena kursi empuknya. Jawaban-jawaban mereka seperti seremonial membuai angan-angan. Meyakinkan menghapus asap tetapi tidak ada penyelesaian.

Solusinya tetap pembagian masker gratis dan janji bualan. Hingga hujan datang memeluk dan berserah kepada Tuhan. Kami masih melawan asap sampai batas waktu yang tidak ditentukan 

Palembang, 25 Oktober 2019

Hujan Sudah Tak Lagi Indah

Hujan akhirnya datang juga

Engkau mengalirkan kisah

Kini Merangkai sedih

Engkau menghapus pedih

dari mata yang perih

Mata-mata yang tak lagi jernih

Nafas-nafas yang tersengal tercekik mendesah

Hujan menghapus sumpah serapah

mengutuki setiap detik perjalanan

Jiwa-jiwa yang mengering kembali basah

menghapus langkah amarah

Bawalah ini pergi menjauh

biar aku tak perlahan punah

dalam kepungan udara menyengat

Ketika hujan sudah tak lagi indah

 

 

 

 

 

Sore Di Pantai Kuta

Menunggumu
Menunggumu

image

Air beriak menyambut kedatangan ku

saat diam dalam malam aku terpaku

aku tak tampak Padamu  selama ini

semakin hilang  karena jauh

CahayaMu itu penyejuk saat jatuh

perahuku akan melaju menggapamu

mencari seteguk rinai yang selama ini hilang

Menggapai-Mu

Tuhan, inginku belas kasih-Mu

Mengapa aku terasa jauh

sementara Engkau begitu dekat

apakah hatiku telah tersekat

dengan dunia yang menjerat

Tuhan, inginku selalu dengan-Mu

mengapa beban selalu berat

tipu daya setan selalu berkelebat

merayu menggoda untuk menjauh

Tuhan, inginku cinta-Mu

tiada daya dan upaya dengan hidayah dan rahmat-Mu

untuk menggapai ridho-Mu

Memelas ikhlas

Memelas ikhlas
Memelas ikhlas

Mengapa?

hatiku jauh…

padahal Engkau dekat

Tuhan, jadikan hatiku menerima

Aku memelas kasih-Mu

segala yang Engkau beri tak terperi

Mengapa?

Aku ragu, sedangkan engkau Maha Kaya

Tuhan, jadikan Hatiku ikhlas

dengan sedikit apa yang kuberi

dalam renung aku berharap lepas

dari segala belenggu dengki

SUMPAH SAMPAH DI PARLEMEN BARU

Rapat dewan seperti anak TK tak beretika

Negaraku melantik legislator baru
Anggota baru berwajah malaikat
Presiden baru, ada juga koalisi baru
Semua hadir dengan pembaruan
Mempertontonkan kepercayaan

Serentak siap di ambil sumpah
Biar sidangnya punya hikmah
Agar terambil hati rakyat
Tak pandang apapun partainya
Tak pandang apapun agamanya
Tak pandang apapun latar belakangnya
sumpah berkumandang berterbangan

jatuh di tangan TUHAN

Sumpahnya untuk ingat dosa
Sumpahnya untuk dengar suara rakyat
Sumpahnya untuk negara Indonesia
Sumpahnya untuk kesehjahteraan
Bukan sumpah demi ketua  partai

Wahai wakil rakyat yang gagah berani
Siapkah mati demi membasmi tirani
Seperti pahlawan dulu bersimbah darah
Atau kembali terkubur janji sumpah                                                                                                                                    Dan tertutup mata hati nurani                                                                                                                                        Karena korupsi dan makan suap                                                                                                                                  Hingga parlemen jadi sampah sumpah serapah

Atas nama rakyat, fasilitas enak dan hidup mewah
Sudah kau dapati dengan semua kenyamanan
kami hanya minta parlemen baru bisa buat tidur enak
Nyenyak, dan kelakuan mu tidak bikin enek, MUAK!                                                                                                      JANGAN! saat rapat paripurna seperti anak TK tak beretika

1 Oktober 2014 👹

Malam yang Hilang

Malam datang berjalan membelai bulan
Saat aku melukis dua wajah pada rembulan
Suara katak bersahut menyambut lembut memanggil
hujan tak ingin datang, malam bertambah malang

Sertakan aku di sana dalam malam yang hilang
Mememani rengekkan yang setiap malam melengking
Sementara tangis itulah yang menepis sepi
Aku akan menyertakanmu dalam siang yang hilang
Pada setiap langkah yang menggaris sekat ruang,
Berbatas dinding langit, dalam hatiku engkau terlentang
Sunyi kian mengering ke dalam relung yang mengering

Aku membayangkan kisah kita terbentang
Menjadi atap tempat kita berteduh dari hujan
Dan aku akan selalu menjadi tiang penopang

12.00 WIB

25.9.’14

Jauh dari Buah Cinta

image image

Nak… Sekarang engkau di Jakarta menemani mami menuntut ilmu. Keadaan yang membuat kita berpisah untuk sementara. Rasanya ada yang hilang di rumah ini nanti. Celotehmu saat bangun tidur. Tangismu, sambil engkau menarik tanganku untuk bermain di halaman rumah. Ocehanmu lucu, belum jelas, selalu membuatku tertawa. Yang paling menyenangkan, ketika engkau mencoba ikut melafalkan doa saat selesai salat. Biasanya, ketika pulang kerja mendengar deru kendaraan Papi, lalu engkau membuka pintu sambil berlari kecil ke luar. Belum sempat pagar ditutup engkau sudah memeluk kakiku. Lalu, ku balas dengan pelukan hangat sambil mengucap “Asalamualaikum…” Engkau coba ikut meniru ucapan ku, Lucu sekali kedengarannya. Kebiasaanmu mencium tangan saat ayah pergi kerja dan pulang kerja, menjadi ingatan yang membebaniku saat kau tinggalkan.

Nak… Ternyata begini rasanya jadi ayah. Apalagi harus jauh. Air mata memang tak terlihat di depan Mamimu, tetapi rindu yang berkecamuk selalu berlarian menanti Mami dan Nabil di rumah. Saat ayah pulang, ternyata ketegaran ayah luluh hingga bulir-bulir kristal putih itu membasuh wajah ayah. Rangkaian cerita tentangmu akan terus membelit setiap hari-hari ayah. Engkau memang belum mengerti sepenuhnya tentang kesedihan dan kegalauan yang ayah rasakan. Namun, tatapan matamu, saat Ayah pergi mengisyaratkan pertanyaan tentang cinta sejati. Ayah selalu berdoa kepada Allah, agar Nabil dan mami senantiasa dilindungi oleh Allah selama di Jakarta. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam menghadapi halangan dan tantangan. Akhirnya, jangan lupa salat Mami dan Nabil.

Jakarta ku titipkan segala harapan
Ketika kami harus berpisah di bandara
Gemuruh burung besi kian menumpuk impian
Tiga malam terlewati dengan dua senyuman
Ini pilihan untuk kita, semasa ketika bersama

Aku Menahan kesepian yang tergaris di sudut jalan pulang
Bersama derai, bulir-bulir kristal putih membasuh wajah
Ketika tingkah lucu dan segala bahasa tubuhnya terlintas
Aku tak kuasa menahan segala rindu yang membayang
Di jalanMu aku selipkan kata-kata suci hingga berterbangan
Sementara waktu terus berjalan bermain-main dalam ingatan

Begini rasanya jauh dari buah cinta yang sedang mekar
Tiada tercipta kesenangan tanpanya walau dalam senyuman
Membekas segala tangis, tawa, celotehnya, dalam kesendirian
Nyanyianmu yang ku dendangkan setiap kali melewati kisah
Dalam foto-foto mu di dinding rumah
Selalu terdengar larian lincah kaki mungil dan teriakan “pi..”

Melewati ini, seperti jalan terjal berbatu
Dimana menanti ujung jalan yang kembali menyatu
Semua awal adalah akhir dari perjalanan harapan
Yang ku nanti saat kita kembali bersama bersatu
Bercerita tantang cerita semasa dalam buaian

07.9.2014

Jakarta, Bandara Halim Perdanakusuma