Tentang Dia, karena Nama

20140205-223925.jpg

20140114-190513.jpg

 

Semangat hidupnya tak akan ada tanpa keyakinan dan ketekunan untuk mencapainya. Aku tahu dia tak ingin seperti itu. Barangkali keadaanlah yang membuatnya seperti apa yang tak terbayangkan sedikit pun oleh ku. Di sini, sebelum waktu itu berlalu begitu cepat. Aku dan dia dipertemukan saat orientasi penerimaan siswa baru si sebuah SMK. Ketika nama kami dipanggil oleh ketua panitia penerima siswa baru, kami maju bersamaan. Aku bingung, mengapa dia juga maju. Sesaat kami saling pandang. Dan tersirat tanya. Kulihat bet nama di baju seragamnya. Ternyata, nama kami sama, sama persis. Nama Jawa yang terdiri dari tujuh huruf dan diakhiri suku kata ‘no’. Nama bagi orang Jawa yang dianggap besar dan bagus karena hampir seluruh petinggi negeri dan pejabat tinggi negara ini memakai suku kata itu diakhir namanya. Aku tidak akan membahas etimologi namaku. Yang jelas aku memercayai bahwa nama adalah doa. Orang tua memberi nama pastilah punya keyakinan akan harapan baik untuk masa depan anaknya. Walaupun nasib juga yang akhirnya akan berbicara. Takdir bagi si anak.

Dia memang asli Jawa, kulit tubuhnya hitam manis, hidungnya mancung, bibirnya mungil tipis dan selalu basah, matanya bulat dan tajam, rambutnya ikal. Kalau saja tubuhnya besar dan berisi, niscaya dia akan kuingat sebagai lelaki yang sempurna. Namun, karena tubuhnya yang kurus dan kurang berisi hilanglah kesempurnaan itu. Walaupun begitu aku tetap memberi poin 90 untuk kesempurnaannya saat itu. Apa lagi banyak wanita yang mengatakan wajahnya mirip Andre Stinky. Bayangkan saja, band Stinky yang dipelopori oleh Andre Taulani merupakan band yang sangat digandrungi anak muda. Begitupun dia, ketika namanya dipanggil banyak sekali teriakan cewek-cewek siswa baru maupun senior yang memanggil namanya dengan panggilan … Stinky.
Namun, walaupun namaku sama dengannya bukan berarti aku orang Jawa. Ayahku orang Rantawalai Ogan Komering Ilir sedangkan ibuku orang Ogan Komering Ulu, dan aku besar di Palembang karena kedua orang tuaku bertemu di Palembang dan menikah di kota ini. Ayah memberiku nama dengan nuansa Jawa karena dia sangat menggemari Presiden RI yang pertama. Aku mengetahui itu karena kutahu dari koleksi buku-bukunya yang masih ejaan Republik. Ayah meninggal saat usiaku lima tahun. Buku-buku koleksinya pun hilang karena tak terawat. Dari tujuh saudara perempuan dan tiga laki-laki termasuk aku. Aku anak ke sembilan yang satu-satunya dinamai dengan nama orang Jawa oleh Ayah. Padahal aku sendiri lebih mirip orang Tionghoa. Banyak orang mengira namaku itu adalah nama Indonesia dibalik nama Cina.

Lanjutkan membaca “Tentang Dia, karena Nama”

Kesusastraan

A. PENGERTIAN

istilah kesastraan berasal dari bahasa Sansekerta sustra. Su berarti ’bagus’. Sastra berarti ’buku’,.’tulisan ’,atau ’huruf. Jadi, susantra berarti tulisan yang baik dan indah. Adapun imbuhan ke-an pada kata kesustraan berarti ’segala sesuatu yang berhubungan dengan (sastra).

Dengan demikian, kata kesustraan dapat diartikan, ”semua tulisan atau karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dalam bahasa yang indah.

Berdasarkan pengertian ini, kesustraan memiliki ciri-ciri berikut.

  1. bahasa yang terpelihara baik.
  2. isinya yang baik dan indah, yaitu benar-benar menggambarkan kebenaran dalam kehidupan manusia.
  3. cara menyajikannya menarik sehingga berkesan di hati pembacanya. Lanjutkan membaca “Kesusastraan”

Gaya Bahasa

Gaya Bahasa

image

A.    Pengertian Gaya Bahasa

Gaya bahasa menurut Slamet Muljana adalah susunan perkatan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Gaya bahasa disebut pula majas.

Gaya bahasa seseorang pada saat mengungkapkan perasaannya, baik secara lisan maupun tilisan dapat menimbulkan reaksi pembaca berupa tanggapan. Secara garis besar, gaya bahasa terdiri atas empat jenis, yaitu majas penegasan, majas pertentangan, majas perbandingan, dan majas sindiran. Lanjutkan membaca “Gaya Bahasa”

EYD

1. Pengertian ejaan

            Setiap bahasa yang ada di dunia pasti memiliki ejaan. Arifin (2004:170) mengatakan bahwa ”ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa).” Menurut Poerwadarminta (1976:34 ) mendefinisikan ejaan sebagai suatu cara atau aturan menuliskan kata-kata dengan huruf. Sementara itu, Tarigan (1985) menyatakan bahwa ejaan adalah cara atau aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Jadi, ejaan adalah suatu cara atau peraturan dalam penulisan suatu bahasa, yaitu kata, melalui huruf-huruf menurut disiplin ilmu bahasa. Dengan demikian, ruang lingkup ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan tanda baca. Lanjutkan membaca “EYD”

Tangis dan Senyum di Januari Ceria

Tangis dan Senyum di Januari Ceria

Tangis Mungil di Bulan Januari

Seperti mimpi, Tuhan. Kau ulurkan tanganMu penuh kasih. Jejak langkah itu tertata rapi dalam ingatanku. Dengan cinta tak cukup tanpa restuMu. Hingga sesal membalut luka kelana. Awal Januari engkau pertemukan aku dengan pendamping hidupku. Lika-liku penuh tanya kau gariskan selama dua tahun empat bulan. Pernah. bulir2 kristal itu mengalir. Dalam jemari tangan ini awwajahku tertunduk. Bagai rinai membasuh sepi sunyi. Kini,engkau hadirkan tangis mungil RIFQY NABIL MUHAMMAD tepat di tanggal 1 Januari 2013. Memetik senyum, saat lelapnya membasuh lelah. Penyejuk hati. Seperti mimpi. Tapi inilah kasihMu. Penuh keajaiban dan kuasa. Sungguh aku memohon dan akan selalu sujud atas namaMu. Dekaplah kami selalu dalam kasih sayang dan rahmatMu.

Minggu, 6 Januari 2013