PUTRI BUDIMAN (sebuah drama untuk anak)

Pemain
1. RajaDongeng anak
2. Putri Budiman
3. Khadam 1
4. Khadam 2
5. 10 Dayang-dayang (disesuaikan)
6. Nenek
7. Anak kecil
8. Guru
9. Tabib

Di suatu negeri yang amat jauh, hiduplah seorang raja yang sangat baik, tegas, dan bijaksana. Sang Raja hanya memiliki seorang anak pewaris tahta. Tentu saja sang Raja sangat menyayangi anaknya. Raja juga mempunyai Khadam yang setia dan para dayang-dayang yang siap membantu Raja.
Babak I
(Khadam masuk dengan membawa sapu, sambil bernyanyi ia membersihkan ruang istana)
1. Khadam 1 : (bernyanyi riang) caknyo aku neh harus cepat bersihke singgasana neh, apolagi denget lagi rajo nak datang, samo putri yang cantik (sambil membayangkan wajah putri/menghayal) bew…seandainyo be ooo, putri ini galak samo aku mmmm…pastilah hidupnyo dak ke susah lagi…
(Khadam 2 masuk dengan mengendap-endap sambil mendengarkan ocehan Khadam 1, lalu menepak pundak Khadam 1 dengan amarah)
2. KHadam 2 : ooooo, ini dio gawe kau neh ye. Pantas!!! Dak selesai-selesai. Berhayal bae! Dak cukup apo kau dengan aku hah! Mmmmm. Ngaco kak raih kau tuh cak peyek. Dak kadi galak putri samo kau. Untunglah maseh ado yang galak samo kau. Itu pun aku neh caknyo kau pelet.
3. Khadam 1 : (Mencoba merayu dengan genit) oooooi dindoku tersayang apo dio yang kau omongke tuh. Bage kk neh kau tulah gadis tercantik di dunio ini. Janganke putri! Bidadari be putus…dibandingke dindo (Khadam 2 masem-masem dengan malu-malu membalik muka). Weeeeeek (tanpa bersuara khadam mengenyek membalikkan muka) aku neh ado pantun untuk dindo nah…. Amat garang Datuk Berkuda
Musuh melanggar habis ditendang
Dulu seorang kini berdua
Hidup bersama susah dan senang
(KHadam 2 tersipu malu dan genit sambil mencubit perut Khadam 1)
4. KHadam 2 : (marah) nehhhhh, ngerayu gombal kau neh… mmm. Cak itulah kalu ado maunyo
5. KHadam 1 : nah….dindo, (kembali ngeluarke pantun)
Kalau balik merendam selasih
Pantang merendam biji mengkudu
Kalaulah dinda memendam kasih
Kandapun karam menahan rindu
(Rayuan Khadam 1 berhasil, Khadam 2 langsung tersipu malu dan berbunga-bunga)

Lanjutkan membaca “PUTRI BUDIMAN (sebuah drama untuk anak)”

Ziarah

20140508-131454.jpg

GambarMenyambut Ramadan emak memberikan amanah kepadaku untuk ziarah kubur ke makam Yai. Emak sudah usia lanjut, walaupun begitu, ia biasanya tetap berziarah ke makam orang tuanya. Sebuah ritual keagamaan yang terus terjaga dikeluargaku. Entah mengapa, Ramadan tahun ini emak merasa sudah tidak sanggup lagi berpergian jauh. Namun bagiku, Palembang – Baturaja tidak terlalu jauh untuk menunaikan amanah emak.  Lagian, sejak selesai menimba ilmu di Jawa, aku tidak pernah  lagi pulang ke kampung halaman emak. Aku masih ingat betul masa kanak-kanak, ketika liburan emak mengajakku pulang ke kampung. Kampung yang penuh dengan kedamaian. Saat-saat indah bermain di masjid ketika bulan purnama, bermandi cahaya, suara riuh pekik anak-anak bersalawat, bermain di sungai yang jernih, memancing, hingga tersesat mencari buah di kebun.  Masih terekam kenangan itu hingga begitu kuat keinginanku pulang kampung untuk berziarah. 

“Nang, kau saja besok pergi ke dusun  untuk ziarah ke makam Yai, kemarin kita sekeluarga sudah ke makam Bapakmu. Jadi tidak apa-apa kamu sendirian saja yang pergi ke dusun.” Kata emak kepadaku dengan penuh kasih. Guratan-guaratan kerut di wajahnya memberi isyarat bahwa ziarah merupakan tradisi yang harus dijaga secara turun temurun.

“Iya, Mak, besok pagi aku berangkat.”  

Lanjutkan membaca “Ziarah”

Ibu Sulis

image

Ibu Sulis namanya, guru honor di sekolah dasar negeri. Bergaji  seratus lima puluh ribu perbulan. Itu pun kalau kas sekolah masih menyimpan sisa
uang BOS. Kalau tidak, tiga bulan sekali gaji di terima. Wajah alami, berkerudung dan ramah. Tak pernah beringas mengajar walau kadang muridnya bertingkah laku bak anak jalanan. Lahir dari keluarga Jawa. Bersuami guru bukan berarti hidup Ibu Sulis berkecukupan. Lima tahun Menikah, Ibu Sulis baru dikaruniai anak perempuan yang usianya beranjak empat tahun. Kelahiran sang anak belum membawa rezeki, sebab Ibu Sulis tetap menjadi guru honor. Yang pengangkatannya entah kapan. Tak jelas. Dan tak ada tanda-tanda. Lanjutkan membaca “Ibu Sulis”

PRAMESWARA

prameswaraSejarah masa lalu mungkin tidak berpihak kepada Prameswara ketika dia mengenang kembali kejayaan Sriwijaya. Runtuhnya Sriwijaya oleh Majapahit membuat Prameswara jatuh bangun untuk mengembalikan kejayaanya. Kerajaan Sriwijaya warisan keluarganya yang di bangun dengan keyakinan dan kekuatan akhirnya diserang dan dirampas Majapahit. Namun, bagi Prameswara, hangusnya Sriwijaya bukanlah akhir dari perjalanan hidupnya.

Sejak itu, Negeri Palembang tanah Sriwijaya dijajah oleh Majapahit. Prameswara putera Raja Sriwijaya  melarikan diri ke Temasik (Singapura). Temasik merupakan Kerajaan yang pernah di bawah kekuasaan Sriwijaya. Oleh karena itu, dia diterima dengan baik di Temasik. Walaupun saat itu, Temasik telah di bawah kekuasaan Siam. Perampasan secara paksa Sriwijaya oleh Majapahit menyebabkan Prameswara hidup dalam pelarian. Duka menyelimuti perjalanannya. Lanjutkan membaca “PRAMESWARA”

Putri Pinang Masak

20140508-131832.jpg

DSC_0194Kicau burung saling bersahutan, berlompatan dan berkejar-kejaran dari dahan ke dahan. Embun masih membasahi dedaunan. Kabut  menyelimuti perbukitan desa. Sang surya malu-malu untuk menampakan wajah. Gemercik air yang mengalir ke ulu, menabrak bebatuan sungai merangkaikan nada alam. Dari dalam rumah panggung yang berukir khas Palembang, tampak seorang gadis bernama Napisah sedang memandang keindahan sandiwara alam dari balik jendela. Setiap pagi seolah alam menyambut Napisah dengan orchestra penyambutan bak seorang bidadari khayangan yang akan turun ke bumi.

Napisah Putri nan cantik jelita bergelar putri pinang masak. Kecatikannya tak tergambarkan dengan kata-kata. Bahkan tak ada perbandingan yang bisa menggambarkan kecantikannya. Kecantikan Napisah tak ada tandingannya diseluruh kerajaan Palembang. Setiap yang memandang, hanya akan berdecak kagum dan tak mampu berkata-kata sehingga Kecantikan Napisah menjadi buah bibir pemuda kerjaan di penjuru negeri.

Lanjutkan membaca “Putri Pinang Masak”

Lebaran di Bawah Tenda Cinta

20140508-132200.jpg

Image041Bangunan yang tampak seperti ruko dengan ruangan yang disekat-sekat dinding dan beberapa computer berjejer. Asap rokok mengepul. Beberapa remaja serius menatap layar computer, ada yang bermain game on-line ada juga yang sekadar chating sambil senyum-senyum sendiri. Namun, tidak dengan ujang matanya memancarkan harapan dari setiap email yang dibukanya. Situs-situs pencari kerja tak pernah luput dari matanya.  Dia tersentak ketika membuka email dari perusahaan besar di Jakarta. Wajahnya sumringah bahagia.

Lanjutkan membaca “Lebaran di Bawah Tenda Cinta”

Puisi dari Sungai

5Siang mulai menampar warga kampung yang mengungsi ke hutan. Mereka berpeluh keringat menantang alam, meninggalkan kampung untuk menghindari kejaran tentara Jepang. Berjalan menelusuri hutan semak belukar. Sambil menyeret binatang ternak, orang-orang bergerombol masuk ke hutan, ibu-ibu mengendong anak, orang tua yang di papah,  wajah-wajah kusut cemas menyelimuti. Mereka berharap mendapatkan tempat yang aman dan jauh dari intimidasi. Hiruk pikuk warga mencari tempat persembunyian di pimpin oleh Rahman, seorang pemuda paruh baya. Badan kurus tetapi padat berisi, kulit tubuh hitam, meyembulkan guratan otot mengisyaratkan dia seorang pekerja berat. Rahman, petani yang meyakinkan warga untuk tidak bergabung menjadi pekerja Jepang. Dialah yang mengoordinir pelarian warga kampung. Lanjutkan membaca “Puisi dari Sungai”

Dua Berita

20140508-132637.jpg

12
Sepekan ini obrolan orang-orang tertuju pada pilkada DKI Jakarta. Media cetak maupun televisi juga tak ketinggalan berlomba-lomba menjadikan pilkada DKI Jakarta headline berita. Situasi ini berimbas kepadaku. Aku akan ditugaskan meliput langsung jalannya pilkada di ibu kota. Polemik dan segala perdebatan pilkada dari pengamat politik menjadi buah bibir masyarakat. Di lembaga pendidikan, di perkantoran, di pabrik, di terminal, bahkan di warung kopi pun tema percakapan tak lepas dari pilkada Jakarta. Perdebatan ini banyak memunculkan pengamat-pengamat dari kalangan bawah. Dari sopir angkot, buruh pabrik, sampai kepada tukang becak, mereka menjelma layaknya pengamat cerdas yang siap menjadi pendukung dan tim sukses. Cerdas, karena mereka kapok tertipu oleh janji manis pemimpin. Termasuk Mak Iyah tetanggaku. Walau hanya mengenyam sekolah rakyat tetapi pandangan Mak Iyah tak kalah dengan para pengamat politik. Pengalaman hidupnya di tiga zaman pemerintahan yang berbeda membuat Mak Iyah paham betul arti kemerdekaan yang selama ini hambar dirasakan. Mak Iyah muda pernah merasakan getirnya perjuangan merebut kemerdekaan. Inilah sebabnya Mak Iyah terdampar di Sumatera. Dia harus mengikuti pelarian suaminya dari kejaran tentara tentara Jepang. Mak Iyah tak mau ketinggalan, dia ikut meramalkan kemenangan salah satu calon cagub. Mak Iyah pernah nyeletuk “Dialah sosok pemimpin yang dirindukan oleh rakyat”. Celetukkan Mak Iyah ini kudengar saat konfrensi orang pinggiran di warung Mang Koni. Warung yang berada tepat di depan rumahku ini sudah seperti tempat konfrensi politik kelas bawah selain tempat ngopi para sopir angkot dan istirahat para tukang becak. Semua kalangan bebas berkeluh kesah membicarakan polemik bangsa di warung itu. Mak Iyah sering nimbrung, oleh sebab sering diminta oleh Mang Koni untuk membantu melayani dan menjaga warung.  Mak Iyah nenek yang latah dan renyeng. Semua suka celotehnya.         

Lanjutkan membaca “Dua Berita”

Hilangnya Imam Masjid

20140508-132931.jpg

CSC_0373Daun-daun kering melapis rumput, Kecoklatan  berkilau diseling warna jingga berterbangan; bayang matahari senja yang memantul dari balik berbukitan. Angin awal musim bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim kemarau  dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain. Senja mulai perlahan tenggelam, tetapi cahaya kemerahan masih tampak terlihat menembus dinding masjid kami yang terbuat dari kayu seadanya.  Pohon-pohon di sekitar masjid seolah menjadi payung peneduh bagi kami yang selalu bermain di bawah rindangnya. Setiap sore kecerian kami  akan tergambar dalam bingkai senja sebelum belajar mengaji dan sholat magrib berjamaah bersama Haji Daud.

Lanjutkan membaca “Hilangnya Imam Masjid”

Ayat-ayat Facebook

20140508-133110.jpg

a42db544855a6b4a8470cd34a85d780dJam berdering, pukul 21.00, hujan sejak sore mengguyur, rintik-rintik gerimis tipis dalam hembusan angin masih meninggalkan irama kesenyapan. Hening, tak ada riuh ricuh di rumah. Dingin menyelimuti penghuni rumah hingga tertidur pulas. Tidak dengan Zakia. Di kamar, samping dipan, mukenah masih dipakainya, duduk antara dua sujud, tubuhnya menyandar ke dinding. Keduatangannya masih memegang Al-quran. Malam ini Zakia tak bisa tidur, berulang kali ia berdiri dan menatap langit dari jendela kamarnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya ke dipan dan membolak-balik tubuhnya, selimut telah berulang kali ia tutupkan ke wajahnya namun tak juga dia mampu menyerahkan diri pada malam. Seperti hendak memikirkan dan memutuskan sesuatu.

Lanjutkan membaca “Ayat-ayat Facebook”