Manusia adalah Binatang yang Berpikir

“Manusia adalah binatang yang dapat berpikir.” Siapa yang ingin disinonimkan dengan binatang? Apakah sekarang sedemikian parahnya perilaku manusia sehingga perlu disinonomkan dengan “binatang”? Siapa yang mengakui bahwa manusia lahir dari proses evolusi? Maka pernyataan ini bisa jadi diterima sepenuhnya tanpa perlu pembantahan lagi. Definisi tentang manusia ini menimbulkan pertanyaan peserta didik ketika mereka membacanya di buku bahasa Indonesia kelas 10 kurikulum 2013. Pernyataan ini baik sekali, karena menuntut peserta didik untuk berpikir secara mendalam. Untuk menjelaskan pernyataan ini, perlu konsep dan definisi. Unsur konstruk paling elementer dalam struktur teori adalah definisi atau batasan atau penjelasan sesuatu konsep.

Fungsi Logis Definisi
fungsi logis dari definisi adalah memberikan batas arti atau makna simbolik dari suatu konsep, sehingga definisi disamaartikan dengan batasan. Konsep manusia perlu diberi batasan sehingga beda dengan konsep hewan atau batu. Pembuatan batasan tersebut pada dasarnya adalah memberikan penjelasan dengan menggunakan simbol lain yang lebih mudah dipahami. Membuat definisi pada dasarnya adalah membuat batasan konsep tunggal. Ketika sejumlah konsep ditata relasinya atau ditata koherensinya atau ditata struktur paradigmanya, maka sejumlah konsep tersebut (yang menjadi konsep ganda, dan mungkin juga konsep kompleks) menjadi pernyataan. Pernyataan tersebut dapat berwujud pendapat, hipotesis, postulat, asumsi, sampai ke struktur teori.

Dalam ilmu pengetahuan definisi biasa diberi sinonim, batasan, atau penjelasan. Disebut penjelasan karena memberikan keterangan agar sesuatu istilah dapat menjadi jelas. Disebut batasan karena memberikan batasan-batasan arti istilah yang dijelaskan. Dalam studi filsafat, definisi dibedakan menjadi tiga besar, yaitu definisi pragmatis, definisi esensialis, dan definisi lingustik.

Definisi Nominalis
Definisi nominalis merupakan penjelasan atas sesuatu istilah dengan menggunakan kata lain yang lebih dikenal. Definisi nominalis setidaknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu definisi sinonim dan definisi etimologis. Pada definisi sinonim, penjelasan diberikan dengan menggunakan persamaan kata atau memberikan penjelasan dengan kata yang lebih dikenal. Contoh: Harimau adalah binatang yang mirip kucing sangat besar. Sedangakan definisi etimologisnya merupakan penjelasan dengan cara mengetengahkan asal-usul istilahnya. Contoh: dalam menjelaskan kata demokrasi. Kata demokrasi berasal dari kata ‘demos’ dan ‘kratos’, demos artinya rakyat, dan kratos yang artinya kekuasaan. Jadi, demokrasi artinya kekuasaan rakyat, atau kekuasaan yang berasal dari, oleh, dan untuk rakyat. Definisi nominalis pada umumnya mudah disusun dengan mencarinya di kamus-kamus. Untuk para pemula dalam dunia ilmu membuat batasan telaah dengan menggunakan definisi nominalis dapat ditolerir. Akan tetapi, bagi para ilmuwan lanjut, penggunaan definisi nominalis menjadi indikator lemahnya pengetahuan yang dimiliki oleh yang bersangkutan, karena biasanya sesuatu istilah itu telah berkembang demikian pesat, sehingga maknanya sudah bergeser jauh. Yang mungkin masih relevan bagi ilmuwan lanjut ini dengan menggunakan penjelasan ensiklopedia historis, ensiklopedia sistematis, atau handbook, juga menurut perkembangan konsep yang berbeda-beda antara para ahli. Perkembangan konsep tersebut dianjurkan didefinisikan dengan menggunakan definisi realis atau definisi praktis.

Definisi Realis
Definisi realis memberikan penjelasan atau batasan berdasar isi yang terkandung dalam konsep yang didefinisikan. Menjelaskan isi dapat dilakukan secara analitik, disebut definisi analitik. Pada definisi ini, isi konsep tersebut diurai menjadi bagian-bagian atau unsur-unsur. Contoh: Manusia adalah makhluk monodualis, memiliki jiwa dan raga yang menyatu. Manajemen merupakan upaya untuk merencanakan, mengarahkan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan, serta mengawasi kegiatan sejumlah orang dan barang untuk mencapai tujuan tertentu. Definisi analitik menjadi definisi konotatif ketika isi konsep tersebut ditata dalam jenisnya dengan sifat pembedanya. Contoh: Hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa. Apabila penataan dalam jenis disertakan pula sifat khususnya, maka definisi tersebut menjadi definisi aksi dental. Contoh: Manusia adalah zoon politicion. Aksidental di sini bukan berarti kebetulan, melainkan spesifik, karena hendak menampilkan pemikiran tentang manusia dalam telaah ilmu politik. Antropologi rahasia akan menampilkan manusia sebagai pitecanthropus erectus, sejenis pitecanthropus yang tegak atau berdiri.
Definisi realis yang lebih superfisial adalah definisi deskriptif yang menampakkan isi dari suatu konsep tanpa upaya memilahkan jenis, pembeda yang spesifik, ataupun yang esensial. Apa yang tampak dalam kejadian atau pengenalan umum disebut deskriptor dari konsep tersebut. Contoh: Handphone adalah telepon tanpa kabel yang bisa dibawa ke mana-mana. Definisi yang mendeskripsikan sejumlah konsep dalam tata pikir sebab akibat disebut kausal. Contoh: Awan adalah air karena penyinaran air oleh matahari.

Definisi Praktis
Di samping definisi-definisi tersebut dikenal pula definisi praktis. Tujuan praktis menjadi ciri khas penjelasannya. Definisi yang mementingkan praktis menjadi ciri khas penjelasannya. Definisi yang mementingkan penjelasan kegunaan atau fungsional. Contoh: Termometer adalah alat untuk mengetahui panas badan. Definisi tersebut menjadi definisi konotatif, ketika orang berpikir hendak membedakan antara temperatur tubuh. Barometer adalah alat pengukur temperatur udara. Kegunaan praktis dari suatu definisi dapat pula ditampilkan berwujud definisi operasional. Mungkin operasional dalam makna, agar mudah mendeskripsikan ketika digunakan untuk mengumpulkan data, misalnya wanita karier adalah wanita yang menjalankan pekerjaan yang memberi efek pada status sosial dan ekonomi pada yang bersangkutan. Mungkin pula dalam makna, menunjukkan cara pengujiannya, misalnya anak jenius adalah anak yang usia integritasnya jauh di atas usia tahunnya, dan jauh di atas rata-rata anak cerdas.

Definisi Paradigmatis
Dengan perkembangan tata pikir mutakhir sekarang ini, seperti berpikir morphogenetis, berpikir divergen, berpikir horizontal. berpikir kreatif, berpikir holografik, dan lain-lain. Selain itu, juga dengan tata pikir cukup kompleks, baik pada tataran teoritik moral cultural, moraltransenden, dan juga munculnya tata pikir kompleks yang operasional pragmatik, maka tampaknya perlu dikenakan klaster keempat dari definisi, yaitu definisi paradigmatis. Konstruk konsep yang diketengahkan tidak seluruhnya dapat ditata analitik hierarki, tidak seluruhnya ditata linier. Misalnya, konflik menurut Dahrendorf adalah pertentangan yang dapat berfungsi positif;dapat pula negatif, dapat menjadi in-gorup atau out-group. Dapat individual ataupun institusional. Dalam definisi konflik, menurut Dahrendorf terkandung banyak konsep;konsep politik, konsep konflik, konsep fungsi positif dan negatif, konsep in-group, konsep proses pada latar individual, dan konsep latar institusional. Ramuan konsep-konsep tersebut tidak seluruhnya linier, ada unsur-unsur teoritis, ideologis, tetapi juga pragmatis. Karena, Noeng Muhadjir menawarkan suatu klaster definisi lagi, yaitu definisi pradigmatis.

“Manusia adalah binatang…” bebas dikonstruksi dengan pemahaman ilmu pengetahuan. Sepintas manusia disamakan dengan binatang, tetapi binatang yang dapat berpikir. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Definisi” berarti kata, frasa, atau kalimat yg mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas; batasan (arti). Manusia adalah “binatang”. Kalimat definisi ini mengungkapkan makna bahwa manusia memiliki persamaan (sinonim) dengan binatang (mempunyai ciri-ciri yang sama) atau proses penciptaan manusia berhubungan dengan proses penciptaan binatang. Pengertian manusia menurut KBBI adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain), sedangkan binatang adalah makhluk bernyawa yg mampu bergerak (berpindah tempat) dan mampu bereaksi terhadap rangsangan, tetapi tidak berakal budi.

Seandainya “Manusia adalah binatang yang berpikir” diambil dari teori Darwin sebagai proses evolusi manusia. Tentu saja, kebenaran definisi ini tidak bisa di terima kebenarannya oleh semua orang. Walaupun ada kesamaan 98% antara struktur genetik munusia dan primata (merujuk pada binatang). Kebenaran ilmiah harus melewati proses yang sangat panjang. Pandangan Darwinian mngenai Evolusi adalah benar scara ilmiah, sebab memang ada kesamaan hingga 98% antara struktur kode genetik pada manusia dan primata. Namun hasil penyelidikan itu hanya menunjukkan bahwa 2% gen manusia berbeda secara kualitatif dan signifikan daripada gen hewan. Selisih kecil ini justru membuat perbedaan raksasa antara manusia dengan hewan. Maka berhadapan dengan teori darwin, Iman atau kepercayaan tidak perlu merasa dirugikan apabila sains menempatkan manusia pada puncak evolusi binatang bukan manusia.

“Manusia adalah binatang” justru membuka mata kita terhadap fenomena alam dan sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia yang melibatkan manusia sebagai pelaku kekerasan, pembantaian, dan tindakan-tindakan lain yang diluar nalar. Berbagai kasus yang melibatkan siswa, guru, politikus, tokoh masyarakat, bahkan ustadz yang berkelakuan keji. Masih banyak lagi perilaku manusia di zaman modernisasi ini yang tak sepantasnya dilakukan oleh manusia. Apakah kita sebagai manusia benar-benar telah bertindak dan berprilaku seperti manusia yang berakal dan berperikemanusiaan? Ada baiknya kita kembali kepada Sang Pencipta yang memberikan kita nafas dan nyawa untuk hidup di muka bumi ini agar taat kepada-Nya. Jika tidak apakah kita memang pantas disebut manusia?

sumber pustaka: Susanto,A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta:Bumi Aksara.

😜ye

Malam yang Hilang

Malam datang berjalan membelai bulan
Saat aku melukis dua wajah pada rembulan
Suara katak bersahut menyambut lembut memanggil
hujan tak ingin datang, malam bertambah malang

Sertakan aku di sana dalam malam yang hilang
Mememani rengekkan yang setiap malam melengking
Sementara tangis itulah yang menepis sepi
Aku akan menyertakanmu dalam siang yang hilang
Pada setiap langkah yang menggaris sekat ruang,
Berbatas dinding langit, dalam hatiku engkau terlentang
Sunyi kian mengering ke dalam relung yang mengering

Aku membayangkan kisah kita terbentang
Menjadi atap tempat kita berteduh dari hujan
Dan aku akan selalu menjadi tiang penopang

12.00 WIB

25.9.’14

Jauh dari Buah Cinta

image image

Nak… Sekarang engkau di Jakarta menemani mami menuntut ilmu. Keadaan yang membuat kita berpisah untuk sementara. Rasanya ada yang hilang di rumah ini nanti. Celotehmu saat bangun tidur. Tangismu, sambil engkau menarik tanganku untuk bermain di halaman rumah. Ocehanmu lucu, belum jelas, selalu membuatku tertawa. Yang paling menyenangkan, ketika engkau mencoba ikut melafalkan doa saat selesai salat. Biasanya, ketika pulang kerja mendengar deru kendaraan Papi, lalu engkau membuka pintu sambil berlari kecil ke luar. Belum sempat pagar ditutup engkau sudah memeluk kakiku. Lalu, ku balas dengan pelukan hangat sambil mengucap “Asalamualaikum…” Engkau coba ikut meniru ucapan ku, Lucu sekali kedengarannya. Kebiasaanmu mencium tangan saat ayah pergi kerja dan pulang kerja, menjadi ingatan yang membebaniku saat kau tinggalkan.

Nak… Ternyata begini rasanya jadi ayah. Apalagi harus jauh. Air mata memang tak terlihat di depan Mamimu, tetapi rindu yang berkecamuk selalu berlarian menanti Mami dan Nabil di rumah. Saat ayah pulang, ternyata ketegaran ayah luluh hingga bulir-bulir kristal putih itu membasuh wajah ayah. Rangkaian cerita tentangmu akan terus membelit setiap hari-hari ayah. Engkau memang belum mengerti sepenuhnya tentang kesedihan dan kegalauan yang ayah rasakan. Namun, tatapan matamu, saat Ayah pergi mengisyaratkan pertanyaan tentang cinta sejati. Ayah selalu berdoa kepada Allah, agar Nabil dan mami senantiasa dilindungi oleh Allah selama di Jakarta. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam menghadapi halangan dan tantangan. Akhirnya, jangan lupa salat Mami dan Nabil.

Jakarta ku titipkan segala harapan
Ketika kami harus berpisah di bandara
Gemuruh burung besi kian menumpuk impian
Tiga malam terlewati dengan dua senyuman
Ini pilihan untuk kita, semasa ketika bersama

Aku Menahan kesepian yang tergaris di sudut jalan pulang
Bersama derai, bulir-bulir kristal putih membasuh wajah
Ketika tingkah lucu dan segala bahasa tubuhnya terlintas
Aku tak kuasa menahan segala rindu yang membayang
Di jalanMu aku selipkan kata-kata suci hingga berterbangan
Sementara waktu terus berjalan bermain-main dalam ingatan

Begini rasanya jauh dari buah cinta yang sedang mekar
Tiada tercipta kesenangan tanpanya walau dalam senyuman
Membekas segala tangis, tawa, celotehnya, dalam kesendirian
Nyanyianmu yang ku dendangkan setiap kali melewati kisah
Dalam foto-foto mu di dinding rumah
Selalu terdengar larian lincah kaki mungil dan teriakan “pi..”

Melewati ini, seperti jalan terjal berbatu
Dimana menanti ujung jalan yang kembali menyatu
Semua awal adalah akhir dari perjalanan harapan
Yang ku nanti saat kita kembali bersama bersatu
Bercerita tantang cerita semasa dalam buaian

07.9.2014

Jakarta, Bandara Halim Perdanakusuma 

 

 

 

 

Perilaku Berpolitik di Indonesia Memprihatinkan

image

Pesta demokrasi yang sangat luar biasa terjadi di tahun 2014! Luar biasa panas, Saling menghujat dan memfitnah antar pendukung capres mewarnai Pilpres 2014. Pilpres yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya pasca runtuhnya orde baru. Apalagi tahun di tahun 2014 hanya ada dua calon yang bertarung dalam Pilpres, Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Sepanjang pengamatan saya sebagai warga Indonesia yang punya hak pilih, tahun ini benar-benar terlihat bagaimana antusias sikap dan perilaku rakyat Indonesia dalam menghadapi dan menyikapi pesta demokrasi. Bahkan antusiasme itu menjurus pada pelanggaran etika. Padahal jelas Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden (Pilpres) Pasal 41 ayat 1 huruf C, bahwa pelaksana, peserta, dan petugas kampanye dilarang menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan calon lain. Namun, kenyataannya tidak demikian, para pendukung masing-masing calon berlomba memberikan pembelaan kepada pasangan yang didukungnya. Akses media sosial yang cepat dan mudah diakses mempermudah menginformasikan dukungan dengan berbagai cara. Para pendukung menginformasikan jagoannya dengan segala cara untuk menarik simpati pemilih dan memenangkan capres pilihannya melalui jejaring sosial. Terkadang cara-caranya pun di luar nalar. Kita bisa melihat ratusan, ribuan, bahkan jutaan pernyataan rakyat, simpatisan, pendukung, timses, bahkan elit partai yang berseliweran di jejaring sosial. Pernyataan pun menuai kontroversi bahkan berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Kebebasan memberikan pendapat di sosial media benar-benar menjadi tempat pembebasan menyuarakan kebenaran yang masih samar-samar dalam Pilpres 2014 ini. Belum lagi media massa online, cetak, dan televisi yang memberitakan pemberitaan capres yang tidak proporsional dan cenderung memihak salah satu capres, sehingga opini publik tergiring ke dalam gerbong yang penuh tanda tanya akan kebenaran jurnalistik sesungguhnya. Bahwa berita harus memuat fakta yang berprinsip pada kebenaran telah ternodai karena tersandera kepentingan politik. Yang paling memprihatinkan adalah beredarnya tabloid “Obor Rakyat” yang menyerang salah satu capres, dan sudah dinyatakan dewan pers bahwa tabloid tersebut bukan produk pers serta diamini oleh Bawaslu sebagai bentuk kampanye hitam. Masing-masing kubu pun terindikasi melakukan kampanye hitam. Apakah kampanye hitam itu permainan atau rekayasa timses capres-cawapres sendiri sebagai strategi pertarungan politik? Masih sangat perlu untuk mencari pembuktian. Tujuan kampanye hitam sendiri adalah untuk menjatuhkan eletabiltas capres-cawapres. Tentu fenomena demokrasi semacam ini sangat tidak baik untuk pendidikan politik bagi masyarakat Indonesia.

Lanjutkan membaca “Perilaku Berpolitik di Indonesia Memprihatinkan”