Mengapa zaman sekarang siswa cenderung “kurang ajar”?

Gambar

Saya merasakan sekali sikap siswa di era globalisasi sangat berbeda dengan zaman saya dulu. Di tahun 1993-1999, saya merasakan bagaimana lingkungan sekolah. Saya sebagai siswa sangat menghormati guru, sangat takut apabila mengeraskan suara, berteriak, berkata kasar, tidak sopan, dan membantah kata-katanya. Di kelas saja, saya sangat menjaga ketertiban kelas. Saat itu, bukan berarti siswa tidak ada yang nakal. Tetap ada, tetapi hanya sebatas suka mencontek dan berkelahi antar sesama karena berselisih paham. Itupun, hanya beberapa anak yang melakukannya. Setelah itu guru menasihati, masalah pun selesai. Seperti telah terpatri di dalam otak saya bahwa GURU adalah manusia yang wajib dihormati dan dipatuhi selain TUHAN dan Orang tua. Entah bagaimana pola pikir itu terbentuk saat itu. Yang jelas, saya begitu takut apabila guru saya kecewa dan marah. Malah, kadang-kadang orang tua saya suka melaporkan sikap saya yang susah diatur kepada guru agar saya berubah. Akhirnya saya dinasihati oleh guru. saya pun takut dilaporkan lagi oleh orang tua saya kepada guru saya. Dan itu, berdampak pada perubahan pada diri saya untuk memperbaiki sikap di rumah agar lebih baik. Begitulah arti penting guru bagi saya saat itu.

“lain lubuk lain belalang, lain dulu lain sekarang” pepatah ini barangkali berlaku pada diri saya sekarang yang menyikapi dan memerhatikan tingkah laku anak didik. Saya sekarang telah menjadi seorang guru, kadang juga mengajar mahasiswa. Pengalaman saya mengajar masih sangat rendah. Baru delapan tahun. Namun, untuk mencari pengalaman, saya sudah lima kali berpindah-pindah sekolah untuk mengajar. Saya pernah mengajar di kota Jakarta. Kelima sekolah tempat saya mengabdi merupakan sekolah bagus dan termasuk sekolah mahal. Saya berkeyakinan bahwa butuh biaya yang sangat besar untuk menyekolahkan anak-anak di sekolah yang bagus seperti itu. Memperhatikan tingkah laku anak-anak zaman sekarang sangat berbeda ketika waktu saya masih bersekolah dulu. Saya tidak mengatakan bahwa anak-anak tersebut banyak yang “kurang ajar”. Barangkali perkembangan zaman dan dampak era globalisasi yang membuat mereka cenderung bersikap tidak sopan. Mereka perlu bimbingan dan arahan. Saya perhatikan hanya anak-anak yang taat beragama yang masih memahami betul nilai-nilai kesopanan terhadap guru dan mudah untuk diatur.
Saya tidak akan menulis sebab akibat, mengapa anak cenderung “kurang ajar”? Barangkali pengalaman, ilmu, dan pengetahuan saya masih terlalu rendah untuk memaparkannya. Biarlah ini menjadi usaha kita bersama untuk memperbaiki anak mulai dari rumah.

Lanjutkan membaca “Mengapa zaman sekarang siswa cenderung “kurang ajar”?”