Cek Gu Noer di Balik Layar

GambarEra globalisasi yang semakin mendesak dalam perkembangan pendidikan menuntut pendidik harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi membuat pendidik harus cepat tanggap bila tidak ingin ketinggalan informasi dan pengetahuan. Globalisasi tidak dapat dihindari, oleh karena itu, pendidik harus menghadapinya dengan pengetahuan dan teknologi. Atas dasar inilah, sekolah kusuma bangsa mencoba bertransformasi dalam bidang pendidikan dan meluncurkan Program Sikumbang (Sistem Informasi Kusuma Bangsa). Untuk mendukung program ini, guru diperkenalkan iPad Air dan IMac sebagai sarana dalam menunjang proses belajar mengajar.

Senin, 6-8 Januari 2014 sekolah Kusuma Bangsa mengadakan training penggunaan ipad dan iMac. Training ini diikuti oleh 44 guru sekolah Kusuma bangsa. Tujuan diadakan training ini untuk memperkenalkan iPad dan iMac serta aplikasinya agar proses pembelajaran di sekolah lebih aktif, kreatif, dan inovatif serta guru menjadi produktif membuat buku digital. Banyak sekali aplikasi yang membantu guru untuk mengajar lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Namun, pada kesempatan ini guru-guru hanya di fokuskan dengan aplikasi Pages, Keynote, Numbers, iMovie dan iBooks. Guru-guru sangat antusias mengikuti training ini dan terpukau dengan berbagai aplikasi iPad yang disediakan di Apple store dan diujicobakan saat training. Semua tampak berbeda dengan yang biasa dilakukan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Pembicara atau intrukstur dalam training ini didatangkan langsung dari Apple Corporation Singapura, Noer Fadillah.

Lanjutkan membaca “Cek Gu Noer di Balik Layar”

Pada musim hujan, anakku berjalan

Nabil Muhammad anakku mencoba menggapai harapan
Nabil Muhammad anakku mencoba menggapai harapan

Seperti wangi bunga pada musim hujan

Dengan tanah basah beraroma janji pada hati

Ketika tawa kecilmu lalu membanjiri tubuh

Tertatih-tatih langkah mu pada bumi pertiwi

Satu tahun usiamu berdiri dengan kaki sendiri

Mengayun perlahan jatuh, dan ku cium manja pipi

Besarlah nak, seiring dengan musim hujan membasahi

Jadilah apa yang Tuhan mu pinta dengan berjanji…

Ayah ingin kita berkumpul kembali, di sini dalam cinta

Sepanjang air hujan masih tetap membasahi bumi

Tentang Dia, karena Nama

20140205-223925.jpg

20140114-190513.jpg

 

Semangat hidupnya tak akan ada tanpa keyakinan dan ketekunan untuk mencapainya. Aku tahu dia tak ingin seperti itu. Barangkali keadaanlah yang membuatnya seperti apa yang tak terbayangkan sedikit pun oleh ku. Di sini, sebelum waktu itu berlalu begitu cepat. Aku dan dia dipertemukan saat orientasi penerimaan siswa baru si sebuah SMK. Ketika nama kami dipanggil oleh ketua panitia penerima siswa baru, kami maju bersamaan. Aku bingung, mengapa dia juga maju. Sesaat kami saling pandang. Dan tersirat tanya. Kulihat bet nama di baju seragamnya. Ternyata, nama kami sama, sama persis. Nama Jawa yang terdiri dari tujuh huruf dan diakhiri suku kata ‘no’. Nama bagi orang Jawa yang dianggap besar dan bagus karena hampir seluruh petinggi negeri dan pejabat tinggi negara ini memakai suku kata itu diakhir namanya. Aku tidak akan membahas etimologi namaku. Yang jelas aku memercayai bahwa nama adalah doa. Orang tua memberi nama pastilah punya keyakinan akan harapan baik untuk masa depan anaknya. Walaupun nasib juga yang akhirnya akan berbicara. Takdir bagi si anak.

Dia memang asli Jawa, kulit tubuhnya hitam manis, hidungnya mancung, bibirnya mungil tipis dan selalu basah, matanya bulat dan tajam, rambutnya ikal. Kalau saja tubuhnya besar dan berisi, niscaya dia akan kuingat sebagai lelaki yang sempurna. Namun, karena tubuhnya yang kurus dan kurang berisi hilanglah kesempurnaan itu. Walaupun begitu aku tetap memberi poin 90 untuk kesempurnaannya saat itu. Apa lagi banyak wanita yang mengatakan wajahnya mirip Andre Stinky. Bayangkan saja, band Stinky yang dipelopori oleh Andre Taulani merupakan band yang sangat digandrungi anak muda. Begitupun dia, ketika namanya dipanggil banyak sekali teriakan cewek-cewek siswa baru maupun senior yang memanggil namanya dengan panggilan … Stinky.
Namun, walaupun namaku sama dengannya bukan berarti aku orang Jawa. Ayahku orang Rantawalai Ogan Komering Ilir sedangkan ibuku orang Ogan Komering Ulu, dan aku besar di Palembang karena kedua orang tuaku bertemu di Palembang dan menikah di kota ini. Ayah memberiku nama dengan nuansa Jawa karena dia sangat menggemari Presiden RI yang pertama. Aku mengetahui itu karena kutahu dari koleksi buku-bukunya yang masih ejaan Republik. Ayah meninggal saat usiaku lima tahun. Buku-buku koleksinya pun hilang karena tak terawat. Dari tujuh saudara perempuan dan tiga laki-laki termasuk aku. Aku anak ke sembilan yang satu-satunya dinamai dengan nama orang Jawa oleh Ayah. Padahal aku sendiri lebih mirip orang Tionghoa. Banyak orang mengira namaku itu adalah nama Indonesia dibalik nama Cina.

Lanjutkan membaca “Tentang Dia, karena Nama”

Outing 2013, Palembang-Jakarta-Jogjakarta-Solo

Eksotisnya Budaya Jawa

20140108-131440.jpg
Keberangkatan kami ke pulau Jawa dalam rangka untuk mengisi liburan bulan Oktober setelah Ujian Tengah Semester. Rombongan kami berjumlah 54 orang dan dibagi menjadi dua grup. Rombongan terdiri dari bapak-ibu dan sebagian lagi masih bujang dan gadis sehingga suasana manjadi beragam, apalagi setelah bebas dari beban kerja yang menghimpit. Namun, karena liburan ini khusus diperuntukan bagi karyawan bukan untuk keluarga tetap saja ada ibu-ibu dan bapak-bapak sangat merindukan anaknya yang masih kecil di rumah, tetapi itu sedikt terhapus oleh kelakar teman-teman yang lain sehingga di perjalanan selalu ada saja lelucon yang menjadi pemecah keheningan.

Lanjutkan membaca “Outing 2013, Palembang-Jakarta-Jogjakarta-Solo”