Ziarah

20140508-131454.jpg

GambarMenyambut Ramadan emak memberikan amanah kepadaku untuk ziarah kubur ke makam Yai. Emak sudah usia lanjut, walaupun begitu, ia biasanya tetap berziarah ke makam orang tuanya. Sebuah ritual keagamaan yang terus terjaga dikeluargaku. Entah mengapa, Ramadan tahun ini emak merasa sudah tidak sanggup lagi berpergian jauh. Namun bagiku, Palembang – Baturaja tidak terlalu jauh untuk menunaikan amanah emak.  Lagian, sejak selesai menimba ilmu di Jawa, aku tidak pernah  lagi pulang ke kampung halaman emak. Aku masih ingat betul masa kanak-kanak, ketika liburan emak mengajakku pulang ke kampung. Kampung yang penuh dengan kedamaian. Saat-saat indah bermain di masjid ketika bulan purnama, bermandi cahaya, suara riuh pekik anak-anak bersalawat, bermain di sungai yang jernih, memancing, hingga tersesat mencari buah di kebun.  Masih terekam kenangan itu hingga begitu kuat keinginanku pulang kampung untuk berziarah. 

“Nang, kau saja besok pergi ke dusun  untuk ziarah ke makam Yai, kemarin kita sekeluarga sudah ke makam Bapakmu. Jadi tidak apa-apa kamu sendirian saja yang pergi ke dusun.” Kata emak kepadaku dengan penuh kasih. Guratan-guaratan kerut di wajahnya memberi isyarat bahwa ziarah merupakan tradisi yang harus dijaga secara turun temurun.

“Iya, Mak, besok pagi aku berangkat.”  

***

“Semula aku berpikir akan nyaman menggunakan kereta api. Apa lagi perbaikan sistem pemesanan tiket sudah menggunakan sistem online atau datang langsung ke stasiun dengan menunjukan KTP. Pagi-pagi sekali aku datang untuk mengantri tiket. Pukul 06.00 Wib, waktu yang cukup pagi untuk sekadar mengantri tiket. Saat datang, aku melihat beberapa pemuda telah mengantri di depan loket antrian. Selang beberapa saat, bapak berbadan tinggi dan berjaket menghampiriku untuk menawarkan tiket cepat. Aku langsung menebak ‘calo tiket masih bergentayangan’. Dengan tegas aku menolak. Aku mengantri di urutan ketujuh. Antrian di belakang sudah sangat panjang sampai ke pintu luar ruang loket. Padahal baru lima belas menit aku berdiri menunggu. mataku tertuju kepada orang yang tadi menawari tiket secara cepat. Aku hanya menghela nafas melihat kelakuannya, ternyata dia tidak sendiri, ada beberapa orang yang berprofesi sama dengannya dan sedang melancarkan transaksi percaloan. Sepertinya dia tahu betul cela-cela kelemahan para pengantri.

            Pukul 07.00 loket mulai buka. Petugas melayani pemesanan tiket. Tiket dibagikan, antrian pertama hampir menyita waktu dua puluh menit untuk satu orang. Petugas bisa melayani dengan waktu yang cukup lama. Ternyata, antrian yang paling depan merupakan bagian dari strategi percaloan. Pemuda ini sengaja datang pagi agar mendapat pelayanan pertama. Modusnya, calo akan mendekati pengantri yang paling belakang sampai ke tengah, dan di belakang saya. Lalu merayu pengantri, menjanjikan tiket cepat tanpa harus mengantri lama. Misalkan harga tiket lima belas ribu rupiah, maka calo akan meminta dua puluh ribu rupiah, lima ribu sebagai ongkos cepatnya. Andai terjadi kesepakatan maka KTP pengantri akan diambil calo dan diserahkan kepada pengantri yang terdepan. Walaupun petugas membatasi pembelian tiket sebanyak lima lembar saja. Begitulah seterusnya, pengantri kedua dan ketiga pun, ternyata suruan calo. Apabila pengantri terdepan yang disiapkan calo habis, maka calo akan mengintimdasi para pengantri yang lemah, berusia muda, dan lanjut usia untuk menitipkan karcis pengantri yang di belakang atau calon pembeli tiket yang datang terlambat untuk mengantri. Kondisi ini diperparah dengan ketidakperdulian petugas pengamanan dari stasiun kereta api untuk mengawasi para calo sehingga mereka dengan leluasa beroperasi. Aku melihat seperti terjadi pembiaran oleh pihak kereta api terhadap kondisi ini. Pengantri yang tidak sabar akan termakan hasutan calo. Ini juga salah satu penyebab calo selalu bergentayangan walaupun sistem pembelian tiket sudah diatur sedemikian teratur untuk menghindari percaloan. Seperti simbiosis mutualisme antara calo dan pengantri yang tidak sabar. ini mungkin salah satu faktor yang menyebabkan percaloan akan tetap abadi. Salah satu pengantri di depanku ternyata mengantri untuk yang keduakalinya. Karena antrian pertama di hari Jumat tiket telah habis, padahal dia datang lebih awal. sedangkan orang yang mengantri jauh dibelakangnya kebagian tiket karena dibantu calo. Ini tentu tidak adil dan sebuah kecurangan.” Inilah unek-unek tentang carut marut pelayanan transportasi kita yang kutuliskan di dalam kereta api kelas bisnis jurusan Baturaja saat menuju desa tempat Yai dimakamkan.

Memakan waktu enam jam lamanya sampai ke kota Baturaja. Dari Baturaja, aku masih harus naik dua angkot lagi untuk sampai ke desa. Kota yang semakin cepat berubah. Kebersihan pasar dan jalan-jalan semakin terjaga apik. Taman-taman  penghias wajah kota menambah romantis pasangan remaja yang memadu kasih. Tampak pusat perbelanjaan berdiri megah dan lalu lalang pengunjung meramaikan pusat perbelanjaan. Remaja-remaja paruh bayah asyik nongkrong saling bercengkeramah dengan lawan jenisnya. Aku berhenti di pasar baru, lalu berlanjut menaikki angkot menuju desa. Memasuki jalan, melewati beberapa desa dengan pemandangan rindang kebun duku dan buah rambutan warga. Di sisi kiri jalan, Air sugai mengalir deras menghantam batu-batu kali yang menghadang. Airnya agak keruh. Ibu-ibu mencuci pakaian dan anak-anak asyik berenang sambil bermain. Pemandangan yang jarang ditemukan diperkotaan.

“Nah…,. Kebile Nang ngan ke duson, balek dikde ngumong-ngumong, ngape emak dekde milu balek? Masuklah ke huma kudai.”

“Ao mang, emak cume nitep salam. Ramadan taun ini, aku kian ziarah ke makam Yai. Emak lah dak kuat lagi nak masuk kebun di ulak untuk ziarah.”

“Ooo, iye lah. Ngan, istirahatlah kudai. Gisok kian ziarahnye. Keluarga kite di duson neh lah sudah gale ziarah mahi ne. Mamang  juge empai balek dari nako balam.” Dengan hangat Mang Ramlan meyambut kedatanganku.

Mang Ramlan adik ke tujuh emak dari sebelas saudara, ia bungsu laki-laki. Tetapi, lain ibu karena Yai beristri dua. Mang Ramlan menempati rumah Yai. Sebenarnya semua saudara emak tidak setuju jika rumah Yai dijadikan hak milik salah satu anaknya. Keluarga besar menginginkan rumah Yai dijadikan hak milik bersama sehingga sewaktu-waktu keluarga yang jauh datang. Maka, singgah dan menginapnya di rumah Yai saja. Ini terasa lebih adil. Mang Ramlan anak laki-laki bungsu yang tinggal berdua saja dengan Yai saat beliau masih hidup di dusun karena saudara yang lain telah menikah dan tinggal di kota. Entah mengapa Mang Ramlan begitu keras berniat memiliki rumah Yai.  Rumah panggung Yai yang mempertahankan tradisi pun di gubah menjadi rumah pernanen dan bertingkat seperti rumah mewah di kota-kota besar.  Sejak itu keluarga yang lain terasa sangat berat bila hendak pulang ke dusun. Aku pun begitu, sebenarnya mala ini terasa sangat berat untuk bermalam di rumah Mang Ramlan.    

***

       Aku menuruni anak tangga yang terbuat dari bambu dengan hati-hati sekali. Gemercik air dan arusnya melambai menyambutku. Beberapa anak tangga sudah rapuh. Setiap langkah berjinjit, bambu berenjit, air tergapai, aku berjongkok mengusap wajah. Panjang tangga sekitar tiga meter dari tepi sungai. Begitu susah menggapai air, apalagi hanya rembulan sebagai penerang. Air sungai lagi surut, kalau air naik, sebenarnya tak perlu menuruni anak tangga ini untuk berwudu. Suasana sepi temaram. Selesai berwudu, Aku kembali menggapai anak tangga dan berjalan menuju masjid.  Melewati jalan setapak di pinggiran sungai. Rerumputan dan suara orkestra jangkrik menggiring langkahku. Sebelum sampai di masjid, tiba-tiba aku melihat seorang kakek berjalan ke arah yang sama denganku menuju masjid. Jubah yang dipakainya sangat berbeda dan sorban yang melilit dikepalanya sebagai pengganti peci, menambah elegan pembawaannya. “Siapakah kakek ini? Sepertinya bukan orang sembarangan”. Gumamku dalam hati. Aku mempercepat langkah agar berjalan bersisian dengannya. Berharap menatab wajahnya. Namun,  Semakin cepat aku berjalan, kakek itu semakin menjauh dari pandanganku. Padahal aku sangat yakin kakek itu berjalan lambat. Belum sempat menyapa, Bayangan kakek berjubah putih itu hilang dikegelapan malam. Apa ini hanya ilusi. Aku berulangkali mengucek-ngucek mata meyakinkan diri. Arah kakek itu tepat menuju pinggiran tebing di belakang masjid. Aku mencoba melihat dengan jeli, sambil tertegun, tak ada tanda-tanda, bekas kaki menginjak rumput pun sama sekali tak ada, nyaris tanpa jejak.  Yang tampak hanya semak-semak dan rumput yang menjalar. ”Kemana Kakek itu? Apa aku salah lihat dan ini hanya ilusiku.”  Aku putuskan untuk kembali ke masjid, azan Isya telah berkumandang. Pikiranku masih melayang-layang menuju pinggiran tebing itu. Lalu, aku menunggu di depan pintu masuk masjid, berharap kalau kakek itu ikut salat berjamaah. Namun, sampai akhir selesai salat, kakek itu tetap tak ada dalam saf yang hanya beberapa makmum saja.

            Masjid ini telah menua. Sangat berbeda ketika pertama kali aku mengunjungi dusun kelahiran orang tuaku ini sekitar dua puluh tahun yag lalu. Masjid sederhana, bangunannya unik. Dua gubah berukuran besar di atapnya memberikan sentuhan budaya islam negeri 1001 malam. Ukiran ayat-ayat suci Al-quran di dinding masjid sudah mulai pudar catnya. Beberapa lampu hias tempo dulu masih kokoh terpasang di setiap sudut masjid walau cahayanya tampak temaram. Namun, masjid ini terancam hilang oleh keganasan Alam. Air pasang serta curah hujan semakin memperparah konstur tanah sehingga sungai kian melebar. Beberapa rumah di pinggiran sungai pun hilang menjadi korban air pasang dan longsor. Gerusan air sudah mendekati jalan utama kampung. Pemerintah daerah bahkan sudah melakukan antisipasi  agar gerusan banjir tidak memperparah keadaan jalan yang longsor dengan  membuat tanggul dipinggiran jalan. Masjid ini seharusnya sudah hilang terkena longsor kalau di ukur secara garis lurus dengan rumah warga yang hilang terbawa arus sungai. Namun, air seolah melewati tanah masjid ini. Hanya bagian belakang, yaitu makam dan pohon besar yang hilang di bawa arus air.

***

Para pejuang kemerdekaan berlarian ke desa-desa. Para tentara belanda dan sekutu terus mengejar. Tidak terhitung jumlah pejuang yang gugur membela tanah air. Siapapun yang dianggap melindungi para pejuang akan dijadikan budak untuk tanam paksa. Bahkan tentara belanda tak segan-segan menembak di tempat jika ada perlawanan. Banyak masyarakat yang kehilangan anggota keluarga dan kerabat. Perlawanan dan kekacauan berjalan seiring. Saat itu, banyak mayat diketumakan mengapung di pinggiran sungai, tergeletak di sawah, membusuk di kebun dan jalan-jalan dusun. Situasi yang  mencekam terjadi berbulan-bulan. Kejadian luar biasa terjadi ketika para pejuang menyelamatkan diri dari kejaran tentara Belanda. Saat puluhan prajurit memasuki sebuah desa tempat pelarian, di jalan bertemulah dengan seoarang kakek. Setelah mendengar cerita prajurit tersebut, sang kakek mengajak prajurit untuk beristirahat dan menunaikan salat berjamaah di masjid. Selesai salat di lanjutkan dengan berdoa dan takziah. Selang beberapa saat terdengar teriakkan warga yang mengatakan bahwa tentara belanda telah datang. Para prajurit panik, tetapi kakek mencoba menenangkan dan meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Asalkan kita percaya bahwa Allah akan menolong kita. Dengan doa yang dipanjatkan kakek dan intruksinya. Akhirnya semua tenang. Ketika tentara Belanda datang menyambangi masjid tempat persembunyian para prajurit. Tak disangka para tentara belanda seperti tidak melihat apa-apa. Padahal, semua prajurit berada di dalam masjid. Warga yang menyaksikan dan mendengar kejadian ini terheran-heran. kabar ini begitu cepat menyebar ketelinga warga desa, bahkan hingga keluar desa. Sejak itu, desa ini terkenal dengan nama dusun ‘Kurungan Nyawo’. Karena Sang kakek dengan izin Allah telah berhasil mengurung prajurit dengan kekuatan doanya sehingga para tentara belanda kasad mata dan tak bisa melihat keberadaan para prajurit tersebut. Banyak warga yang ingin berguru kepada kakek tersebut, tetapi ia menolak.  Begitulah cerita yang kudengar tentang dusun ini dari orang tuaku. Walaupun emak tidak menceritakan secara mendalam siapa kakek itu. Entah ini hanya mitos atau legenda saja, yang jelas kejadian malam itu mengingatkanku kembali akan cerita ini. Tentang masjid tempat persembunyian tentara pejuang, makam yang hilang, dan kakek berjubah putih.

Hanya masjid ini yang tetap bertahan di tengah derasnya perubahan masyarakat. Seiring dengan tingkat perekonomian warga yang kian meningkat. Rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu di sekitar masjid telah berubah menjadi rumah-rumah permanen bergaya minimalis dan bertingkat. Jemaah masjid pun tak lagi seramai dulu. Anak-anak dan remaja, tak betah berlama-lama lagi di masjid mengikuti Ceramah agama, taklim, dan membicarakan rencana kegiatan masjid bersama. Sejak listrik masuk desa, Mereka lebih suka berlama-lama nongkrong di depan televisi. Apa lagi berbagai saluran televisi sangat mudah diakses, baik nasional maupun internasional. Ditambah akses internet telah mewabah dikalangan remaja sehingga segala informasi sangat mudah diakses.  Di meja bliar di pingiran kampung pelajar-pelajar smp maupun sma nongkrong sampai larut malam. Tak pernah sepi, sambil bergitar. Tua dan muda, ibu dan bapak berjoget ria saat orgen tunggal di gelar ketika hajatan warga. Anak-anak dan remaja di desa seperti tak perduli lagi dengan mitos dan legenda kebesaran dan kesucian dusunnya. Gaya berpakaian dan bergaul pun sudah jauh berbeda. Tradisi-tradisi dusun, dari adab berhubungan sesama lawan jenis, adab terhadap orang tua, adab terhadap alam mulai dianggap kuno dan ketinggalan zaman.

***

Aku melewati jalan setapak berliuk-liuk di pinggiran sungai. Pepohonan rindang dan suara riuh angin meniup dedaunan. Gemercik air sungai mengalir menghantar ikan ke hulu. Burung-burung kecil bersiul sambil berlompat-lompat dari dahan ke dahan lainnya. Cahaya matahari tampak malu-malu menembus celah-celah daun. Untuk ziarah ke makam Yai aku harus melewati kebun duku warga.  Namun, Langkah kakiku terhenti di persimpangan jalan menuju masjid tempatku salat semalam. Aku merasa kaki ku ada yang menggerakkan. Ya, tergerak menuju tempat hilangnya kakek yang kutemui semalam.  Tepat di bawa bukit dan dataran ini. Aku merasa ada yang mendorongku. Dan tiba-tiba, aku terperosok tepat di rerumputan rindang di bawah bukit. Punggungku terasa menduduki sesuatu. Setelah perlahan ku angkat. Benar. aku menduduki sebuah nisan batu yang bertuliskan nama Syeh Abdul Kodir. Kuangkat nisan dengan perlahan-lahan. Namun, tanganku seolah gemetar dan tak dapat di digerakkan. Terasa kaku sekali. Dan ketika aku mencoba membuka tanganku dengan sekuat tenaga. Aku melihat benda berwarna emas, seperti kitab berukuran kecil telah ada di genggamanku. Badanku terasa lemas dan menggigil. Sejurus dengan kejadian yang tak kusangka-sangka itu. Aku melihat ada beberapa warga yang melewati jalan ini. Namun. Mereka seolah tak perduli denganku bahkan ketika aku mencoba menggerakkan mulutku untuk berteriak meminta tolong. Mereka tak menghiraukannnya. Padahal sangat dekat. Dengan berat bibirku berucap “Aku tak terlihat…!!!

Sumeks, 14 Agustus 2013

2 pemikiran pada “Ziarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s