Pesan untuk Siapa pun Pemimpin

tawa nabil PicsArt_1371138470319
nak…, Bapak berpesan jangan kau nikmati sendiri kebahagiaan dikala tawa dan senyummu menjadi berharga di mata orang lain. Jangan kau bicara keadilan jika itu diukur dari bagian. Kau harus menyelami siapa dan apa keadilan bagi kemaslahatan. kau laki-laki kelak akan memimpin, jangan bermandi susu sendiri sedang yg lain hanya air sedikit jernih. kau tahu tapi diam, karena katakutan.nak…jangan kau sematkan doktrin kesabaran dan keihklasan sedang kau menerima kenikmatan tanpa melewati jembatan kesabaran yang dibangun dengan kelana. jangan memimpin bila nikmat hanya kau rasakan sendirisedang yang lain bermandi keluh kesah karena ketimpangan . Jangan sekali-kali kau sembunyikan permainan kekuasaan dan kau buat yang lain menunggu dalam ketidakpastian. ingat!!, kebenaran akan terungkap walau jalannya amat panjang berliku. pastikan kau ikut merasakan penderitaan yang lain baru kau akan tahu arti keadilan. Jangan kau berdiam diri ketika merasakan keempukan kasurmu, lihatlah kiri kananmu. harga diri lebih mulia drpd kau ambil keringat tulang saudaramu dan angkat bersama-sama hingga duduk sama rendah dan tegak sama tinggi. nak…hidup ini keras, maka dengarlah nasihat sekalipun ia membencimu. berjalanlah pada jalan dimana, duka, dan bahagia sama maknanya antara kau dan ia. bagiku, kau sudah terlahir menjadi pemimpin saat kau berani ‘tidak’ untuk merasakan nikmat sendiri dan mau berjuang untuk yang lain, itulah pemimpin sejati.

Air mata air surga

Pamulang, 1 Juli 2009

23.07 wib

engkau tak  lelah mendayung sampan kasih  si buah hati

Bertahun-tahun mengarugi  gelombang pasang surut

jiwa yang penuh dengki

Tangisanmu adalah badai

Setetes  air matamu tak dapat kuhapus dengan sapu tangan emas

Walau kutimba air terjun sebesar gubah emas

Itupun tak cukup menggantikan air matamu

air matamu  hutan sabana

air matamu  air mata darah

Tumpah dalam sumpah

air matamu air mata surga

Jangan engkau tenggelamkan surga dengan air matamu

dalam hening ku tumpahkan segala rasa

Kuselami samudera malam

Kutukar air matamu dengan air mata hati

Air mata jiwa dari telaga yang paling dalam

Aku tak ‘kan berhenti memelas

Sampai  engkau memberi air mata berkahmu

Ampun Ibu…