Drama sebagai Model Pembelajaran abad 21

DSCN1423Saat ini, Pengaruh media cetak dan elektronik begitu kuat terhadap perkembangan anak. Media cetak maupun elektronik banyak menyediakan berbagai macam informasi (internet, google, dll.) dan tontonan (sinetron, film, dll.). Informasi dan tontonan sangat mudah diakses. Ini menyebabkan anak dibawah kendali teknologi sehingga anak berkembang di luar kontrol orang tua dan guru. Pengawasan yang bersifat preventif salah satu solusi yang di tawarkan. Namun, pencegahan seharusnya harus terpusat dari dalam diri anak bukan berpusat dari luar diri anak. Anak cenderung berkembang sesuai apa yang dilihat dan dibacanya, kemudian akan terekam dan teraplikasi dalam kehidupannya, baik dalam prilaku, pergaulan, dan gaya hidup. Perkembangan jiwa anak yang cenderung ingin tahu dan mencoba, serta labil dalam memutuskan hal yang baik untuk diri sendiri mengakibatkan anak mudah terpengaruh arus modernisasi dari globalisasi. Disinilah peran orang tua dan guru, serta masyarakat untuk mengawasi dan mencegah dampak globalisasi dari sudut perkembangan teknologi pada anak.

            Orang tua sebagai pondasi awal pendidikan anak handaknya bersinergi dengan guru agar pendidikan yang didapat di sekolah sejalan dengan misi dan visi di sekolah. Masyarakat selaku tempat perkembangan anak menuju kedewasaan dan kemandirian hendaknya berperan serta dalam kontrol sosial pada anak sehingga anak tidak tersesat dalam pergaulan. Guru, orang tua, dan masyarakat merupakan kunci keberhasilan pendidikan pada anak secara menyeluruh. Semua yang dilakukan anak, baik positif maupun negatif merupakan rangkaian perjalanan hidup menuju kedewasaan. Masa anak-anak merupakan masa  pencarian jati diri. Ini artinya anak mengalami proses kehidupan yang kompleks untuk menuju kedewasaannya. Proses menuju kedewasaan itu salah satunya didapat oleh anak di bangku sekolah dan teraplikasi dalam bermasyarakat.

            Kita sering menjumpai anak cenderung tidak dapat menerima pendidikan dan pengetahuan dengan baik di sekolah. Padahal semua anak dibekali oleh Tuhan otak yang sama untuk menerima pengetahuan dan menyerap informasi. Salah satu penyebabnya bisa saja anak merasa jenuh dengan proses pembeajaran konvensional yang diberikan guru. Kalaupun peroses pembelajaran yang diberikan model pembelajaran aktif kepada anak, tetap esensi nilai kognitifnya yang lebih ditekankan. Artinya, orientasi pembelajaran lebih banyak pada nilai-nilai kuantitatif dan mengabaikan nilai-nilai kehidupan. Pada hal, di zaman globalisasi proses pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan atau ilmu harus berorientasi pada ilmu terapan yang langsung menyentuh nilai positif dan negatif dalam kehidupan. Anak harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya bertujuan baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak sehingga anak-anak dalam berprilaku dan bergaul dengan masyarakat bisa memahami nilai-nilai pengetahuan yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu, anak dapat mengambil keputusan secara, tepat, arif,  dan bijaksana dalam kehidupan di luar sekolah. Anak akan memahami manfaat guna dan nilai pengetahuan dalam kehidupan nyata. Tidak hanya memahami teori, dan hapalan tentang pelajaran. Untuk itu, di era globalisasi proses pembelajaran seharusnya dirahkan pada konsep ilmu terapan. Ini diharapkan dapat membantu anak memecahkan masalah dalam hidupnya.

            Ilmu terapan adalah ilmu tentang cara menerapkan prinsip umum untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam alam semseta dan masyarakat manusia. Ilmu matematika, IPA, IPS, bahasa, seni, dan agama hendaknya menerapkan konsep ilmu terapan agar anak dapat mengaplikasikan langsung ilmu yang didapat dalam konteks kehidupan nyata masa depan. Pembelajaran dengan konsep ilmu terapan tentu harus memunyai model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran ilmu terapan berorientasi pada kehidupan, perbuatan dan tingkah laku manusia. Proses pembelajaran yang berkonsep pada ilmu terapan melibatkan anak sebagai pelaku utama dalam menyerap pengetahuan. Anak harus terlibat sebagai manusia yang menerima efek positif dan negatif dari pengetahuan yang didapat. Sehingga diharapkan terjadi  pembagian peran kepada anak ketika proses belajar. Peran protagonis dan antagonis yang dimaksud merupakan rekayasa sebagai penerapan ilmu secara langsung dalam kehidupan. Oleh karena itu, untuk melibatkan anak sebagai pelaku dalam preses pembelajaran menggunakan model dramatic teaching.

            Model Dramatic learning mengambil konsep dari Ferdinand Brunetiere dan Balthazar (1996:2) menurutnya drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dengan action prilaku. Kemudian definisi  dihubungkan dengan dimensi  lakonnya saja. Proses pembelajaran model ini diharapkan melibatkan anak sebagai pelakon sehingga memberikan pemahaman, pengertian dan  pengetahuan (materi yang diajarkan) melalui lakon.  Kita tahu bahwa materi ajar terkandung nilai-nilai kebenaran dan keseriusan dalam kehidupan dan bukan sekadar ”permainan” angka dan kata-kata. Dengan demikian apapun materi ajarnya sesungguhnya sangat bisa dibawah dalam lakon.

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginsipirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan,langkah- langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung. Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti- ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran. Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tersebut dinamakan model pembelajaran.

 

Penerapan dalam Pembelajaran

            Mula-mula guru mempersiapkan materi pembelajaran. Kemudian kaitkan materi tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Materi yang diajarkan berguna langsung atau teraplikasi dalam kehidupan secara langsung. Sebagai contoh pelajaran matematika dengan materi Trigonometri. Trigonometri adalah ilmu ukur mengenai sudut dan sempadan segitiga. Lalu, guru menghubungkan ilmu trigonometri ke dalam kehidupan nyata. Didapati bahwa ilmu trigonometri dalam penerapan di kehidupan digunakan oleh pemborong bangunan atau insinyur teknik dalam membangun gedung bertingkat. Kemudian guru membagi anak ke dalam beberapa kelompok (disesuaikan dengan jumlah siswa dikelas dengan teknik membagi kelompok diserahkan kepada guru), membuat kelompok dengan nama kelompok ”pemborong dengan peran sebagai insinyur” tujuannya agar dapat memenangkan tender pembangunan gedung. Guru harus mampu menciptakan suasana kelas menjadi sebuah latar presentasi tender di sebuah perusahaan. Atau guru bisa berimajinasi tentang hal-hal dalam dunia nyata (penerapan dalam kehidupan) yang berhubungan dengan trigonometri. Siswa harus berlakon seperti layaknya insinyur. Mereka bertanya, merancang, dan menghitung sudut dan sempadan segitiga bukan sebagai siswa tetapi sesuai dengan perannya. Situasi kelas harus di bawah ke dunia ”lain” dimana siswa tahu bahwa mereka akan memahami kegunaan ilmu yang mereka dapat baik positf dan negatif dalam kehidupanya di masa depan.

            Begitupun dengan kelompok mata pelajaran seperti bahasa, IPA, IPS, Agama, Sejarah, dan Seni bisa dilakukan dengan model pembelajaran dramatic learning agar pembelajaran lebih berarti dan bermakna. Model pembelajaran ini konsepnya berimajinasi, bahwa siswa bisa berperan menjadi siapa saja (peran) dan berlakon sesuai peran. Mengubah latar bahwa siswa tidak selamanya berada di kelas. Dan, semua materi di terapkan dalam kehidupan nyata (dihubngkan langsung dalam kehidupan).

Satu pemikiran pada “Drama sebagai Model Pembelajaran abad 21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s