BABUN THE ALMIGHTY

Siswa SMP kusuma bangsa palembang
Siswa SMP Kusuma Bangsa Palembang

Suharno

Hari itu, guru – guru mendapatkan pelatihan pengembangan diri dari Sampoerna Foundation.  Pelatihan yang mendadak, menjadikan waktu mengajar di kelas tertunda. Dua pembicara dalam pelatihan itu, guru-guru yang masih muda. Materi yang mereka sampaikan dan metode penyampaian materi sangat membuatku bersemangat untuk terus mengikuti pelatihan. Dalam pelatihan itu, kita dibuat santai dan tidak tegang dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan sehingga belajar jadi tidak membosankan.   Semua guru  mendengarkan dan memeraktikkan materi pada saat pelatihan. Masing-masing guru dibagi dalam kelompok mata pelajaran. Inti materi yang disampaikan pada dasarnya  bagaimana cara guru mengajar supaya aktif dan menyenangkan bagi siswa. Tentu saja ini  terkait dengan perkembangan psikologi guru tersebut dalam mengajar. Diakhir materi, kami harus menerapkan hasil pelatihan tersebut di kelas. Aku tergabung dalam kelompok guru bahasa,  yang di dalamnya terdapat guru bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Aku sendiri sebagai guru bahasa Indonesia.

            Tiba saatnya, kami diberi waktu untuk mempersiapkan materi selama sepuluh menit sebelum  mengajar di kelas. Dengan harapan, materi pelatihan singkat itu dapat menginspirasi kami dalam mengajar. Aku berpikir sejenak, apa yang harus kupersiapkan dalam waktu sepuluh menit. Pada hal, semua guru sudah menyiapkan alat dan media belajar sebagai alat bantu mengajar di kelas. Aku berpikir sejenak, teringat dengan kalimat Rene Descartes seorang filsuf dari Prancis yang mengemukakan pernyataan yang terkenal sepanjang masa, cogito ergo sum, saya berpikir karena itu saya ada.    Dari kalimat ini lah,  aku berpijak untuk mengajar. Materi yang disampaikan adalah “Mendata Informasi dari Berbagai Sumber”. Aku memakai buku panduan belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk kelas X, karangan esis yang sangat membantu, karena di lengkapi dengan instrument penilaian.

            Proses belajar mengajar berlangsung,  pengawas telah siap mengamati bagaimana caraku menyampaikan materi. Aku mulai menyapa anak-anak dengan kata “Indonesia” maka anak akan menjawab dengan “sejahtera”. sebaliknya, jika aku mengatakan “sejahtera” maka anak-anak akan menjawab dengan “Indonesia” begitulah caraku mengendalikan suasana kelas agar tetap terkendali selama pelajaran berlangsung. Yel-yel ini sudah menjadi kata-kata khas setiap proses belajar bahasa Indonesia berlangsung. Ku tulis lingkaran di papan tulis. “Anak-anak…, materi kita hari ini adalah mendata informasi dari berbagai sumber. Sekarang, kalian masuk ke kelompok masing-masing, seperti biasanya. Kalian perhatikan lingkaran yang Bapak buat di papan tulis. Lingkaran itu kita analogikan sebagai anatomi tubuh manusia, anggaplah itu sebagai kepala manusia. Tugas kalian, setiap kelompok harus melengkapi anatomi  tubuh tersebut agar menjadi manusia yang sempurna. Setiap anatomi tubuh yang kalian pasangkan atau gambarkan, kalian harus menuliskan sumber informasi atau sumber pengetahuan sebagai simbol dari anatomi tersebut. Misalnya kalian menggambarkan telinga. Maka kalian harus menuliskan sumber informasi atau pengetahuan untuk mewakili anatomi tersebut. Contoh: ( telinga [digambar] = buku [sumber informasi] ). Dengan kata lain,  kalian menciptakan  tokoh dari sumber pengetahuan. Pengetahuan bisa didapat dari berbagai sumber. Apa kalian memahami instruksi yang Bapak sampaikan?” ujarku. “Paham Pak…”sambut anak dengan semangat. Mereka antusias sekali, karena belajar bahasa sambil menggambar di papan tulis. Setiap kelompok aktif dan antusias sekali dalam melengkapi gambar tokoh di papan tulis. Mulai dari leher, telinga, tangan, tubuh, kaki, sepatu, topi dan sebagainya. Semakin sempurnalah tokoh yang diciptakan oleh anak-anak dengan sumber pengetahuan sebagai simbolnya, mulai dari buku, guru, televisi, radio, koran, kamus, internet, komputer dan masih banyak lagi.

            Setelah selesai anak-anak menggambar tokoh yang mereka ciptakan.  “Anak-anak coba kalian beri nama tokoh yang kalian ciptakan dan apa profesinya!” perintahku. Dengan sigap dan cepat,  masing-masing kelompok berdiskusi mencari nama yang cocok untuk tokoh yang mereka ciptakan.

Dari diskusi dan imajinasi mereka, terciptalah beberapa nama tokoh dengan berbagai profesinya. Berikut nama-nama tokoh yang mereka  ciptakan:

1. ABDA PENCI  berprofesi sebagai Menteri Pertanian
2. SUITERU berprofesi sebagai pengusaha tas kulit buaya
3. KMS RIDHO PPT BAEH berprofesi sebagai dokter
4. SAMENIT berprofesi sebagai dosen
5. BABUN THE ALMIGHTY berprofesi sebagai profesor

Nama-nama yang unik dan jarang terdengar di telingaku. Imajinasi dan keinginan anak untuk menjadi sesuatu yang berharaga dapat tergambar dari nama dan frofesi yang mereka ciptakan sendiri. Bukan tidak mungkin, mereka akan menjelma seperti tokoh-tokoh yang mereka ciptakan itu kelak.  Dengan keinginan keras dan imajinasi yang bertumpu pada masa depan. Menurutku inilah bentuk “mereka berpikir karena itu mereka ada dan bisa menciptakan sesuatu”.

“Anak-anak apa kesimpulan materi kita pada hari ini.” Teriakku sembari tersenyum melihat gamabar tokoh yang kelihatan unik di papan tulis. Kelompok lima dengan tokoh Babun The Almigthy sigap menjawab yang diwakili oleh ketua kelompoknya, “Sebagai seorang manusia kita dituntut untuk mencari ilmu dari berbagai sumber pengetahuan yang ada. Kita  telah menganalogikan tokoh yang kita ciptakan sendiri. Semula, dia hanya tokoh yang tidak  punya apa-apa, kemudian kita melengkapinya dengan anatomi tubuh yang lain dengan berbagai sumber pengetahuan yang kita tuliskan. Artinya semakin seseorang itu banyak menggali sumber pengetahuan maka ia akan menjadi manusia yang sempurna dan akan mencampai kejayaannya sebagai manusia yang berilmu. Seperti tokoh Babun The Almigthy yang menjadi seorang profesor.”

Aku tertegun dengan jawaban ini. Mereka seperti filsuf yang sedang berpikir mencari kebenaran. Yang lain tak ingin ketinggalan untuk menyimpulkan materi pelajaran hari itu, tetapi belum sempat mereka menyimpulkan, waktu telah membatasi pertemuan hari itu. Lonceng pun berbunyi. Kuteriakan “ sejahtera”, anak-anak menyambut dengan “Indonesia”. Terima kasih Pak, ucap anak-anak.

Setelah ke luar kelas. Pengawas langsung menjabat tanganku, “Selamat, kreativitas seorang guru memang dibutuhkan dalam setiap proses pembelajaran.”

Pelatihan singkat itu telah menginspirasiku dalam mengajar bahwa sesunggunnya anak-anak adalah seorang pemikir dan pengimajinasi yang tinggi.

2 pemikiran pada “BABUN THE ALMIGHTY

  1. saya ingin sekali bisa berbahasa inggris dan indonesia dengan baik dan benar seperti anda. sediakah anda mengajari saya? black in yellow. kalau kamu tidak mau mengajari saya, saya akan menjadi sahabat baikmu 😉 …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s