Dua Berita

20140508-132637.jpg

12
Sepekan ini obrolan orang-orang tertuju pada pilkada DKI Jakarta. Media cetak maupun televisi juga tak ketinggalan berlomba-lomba menjadikan pilkada DKI Jakarta headline berita. Situasi ini berimbas kepadaku. Aku akan ditugaskan meliput langsung jalannya pilkada di ibu kota. Polemik dan segala perdebatan pilkada dari pengamat politik menjadi buah bibir masyarakat. Di lembaga pendidikan, di perkantoran, di pabrik, di terminal, bahkan di warung kopi pun tema percakapan tak lepas dari pilkada Jakarta. Perdebatan ini banyak memunculkan pengamat-pengamat dari kalangan bawah. Dari sopir angkot, buruh pabrik, sampai kepada tukang becak, mereka menjelma layaknya pengamat cerdas yang siap menjadi pendukung dan tim sukses. Cerdas, karena mereka kapok tertipu oleh janji manis pemimpin. Termasuk Mak Iyah tetanggaku. Walau hanya mengenyam sekolah rakyat tetapi pandangan Mak Iyah tak kalah dengan para pengamat politik. Pengalaman hidupnya di tiga zaman pemerintahan yang berbeda membuat Mak Iyah paham betul arti kemerdekaan yang selama ini hambar dirasakan. Mak Iyah muda pernah merasakan getirnya perjuangan merebut kemerdekaan. Inilah sebabnya Mak Iyah terdampar di Sumatera. Dia harus mengikuti pelarian suaminya dari kejaran tentara tentara Jepang. Mak Iyah tak mau ketinggalan, dia ikut meramalkan kemenangan salah satu calon cagub. Mak Iyah pernah nyeletuk “Dialah sosok pemimpin yang dirindukan oleh rakyat”. Celetukkan Mak Iyah ini kudengar saat konfrensi orang pinggiran di warung Mang Koni. Warung yang berada tepat di depan rumahku ini sudah seperti tempat konfrensi politik kelas bawah selain tempat ngopi para sopir angkot dan istirahat para tukang becak. Semua kalangan bebas berkeluh kesah membicarakan polemik bangsa di warung itu. Mak Iyah sering nimbrung, oleh sebab sering diminta oleh Mang Koni untuk membantu melayani dan menjaga warung.  Mak Iyah nenek yang latah dan renyeng. Semua suka celotehnya.         

Lanjutkan membaca “Dua Berita”

Tangis dan Senyum di Januari Ceria

Tangis dan Senyum di Januari Ceria

Tangis Mungil di Bulan Januari

Seperti mimpi, Tuhan. Kau ulurkan tanganMu penuh kasih. Jejak langkah itu tertata rapi dalam ingatanku. Dengan cinta tak cukup tanpa restuMu. Hingga sesal membalut luka kelana. Awal Januari engkau pertemukan aku dengan pendamping hidupku. Lika-liku penuh tanya kau gariskan selama dua tahun empat bulan. Pernah. bulir2 kristal itu mengalir. Dalam jemari tangan ini awwajahku tertunduk. Bagai rinai membasuh sepi sunyi. Kini,engkau hadirkan tangis mungil RIFQY NABIL MUHAMMAD tepat di tanggal 1 Januari 2013. Memetik senyum, saat lelapnya membasuh lelah. Penyejuk hati. Seperti mimpi. Tapi inilah kasihMu. Penuh keajaiban dan kuasa. Sungguh aku memohon dan akan selalu sujud atas namaMu. Dekaplah kami selalu dalam kasih sayang dan rahmatMu.

Minggu, 6 Januari 2013

Menyelisik Pengajaran “Bericerita sebagai Sarana Menjadi” oleh Riri Toha Sarumpaet

Dunia ini panggung sandiwara ….
Ceritanya mudah berubah….

Syair yang melegenda ini menjadi ungkapan Riri Toha Sarumpet untuk melihat sisi kepura-puraan dalam kehidupan. Panggung melambangkan tempat, dimana manusia berpijak dan bertindak semau dan sesuka hatinya. Sandiwara merupakan rangkaian cerita yang menggiring manusia menuju ke sebuah pengalaman yang kelak berakhir ketika peradaban manusia musnah. Riri menegaskan bahwa dalam panggung sandiwara di dunia nyata, kita tidak dapat melepaskan peran sutradara, yaitu Tuhan. Ketika kita menyadari bahwa kehidupan ini disutradarai oleh Tuhan maka dengan kesadaran penuh kita tidak akan melakukan adegan-adegan yang tidak di sukai sang sutradara. Riri beranggapan sesungguhnya dalam kehidupan ini kita sedang bercerita tentang diri sendiri. Kita menjadi objek bagi si pembuat cerita. Cerita kita terangkai seperti sandiwara tanpa episode. Seorang presiden, polisi, insinyur,  guru dan sebagainya, sesungguhnya sedang bersandiwara. Ini seperti menafsirkan kewajaran apabila di dalamnya terdapat kepura-puraan. oleh karena itu, Riri menyarankan belajar bahasa dan sastra harus dimulai dari pengalaman diri sendiri karena semua kehidupan ini adalah cerita yang terangkai seperti sandiwara.         Lanjutkan membaca “Menyelisik Pengajaran “Bericerita sebagai Sarana Menjadi” oleh Riri Toha Sarumpaet”