Hilangnya Imam Masjid

20140508-132931.jpg

CSC_0373Daun-daun kering melapis rumput, Kecoklatan  berkilau diseling warna jingga berterbangan; bayang matahari senja yang memantul dari balik berbukitan. Angin awal musim bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim kemarau  dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain. Senja mulai perlahan tenggelam, tetapi cahaya kemerahan masih tampak terlihat menembus dinding masjid kami yang terbuat dari kayu seadanya.  Pohon-pohon di sekitar masjid seolah menjadi payung peneduh bagi kami yang selalu bermain di bawah rindangnya. Setiap sore kecerian kami  akan tergambar dalam bingkai senja sebelum belajar mengaji dan sholat magrib berjamaah bersama Haji Daud.

Lanjutkan membaca “Hilangnya Imam Masjid”

Ayat-ayat Facebook

20140508-133110.jpg

a42db544855a6b4a8470cd34a85d780dJam berdering, pukul 21.00, hujan sejak sore mengguyur, rintik-rintik gerimis tipis dalam hembusan angin masih meninggalkan irama kesenyapan. Hening, tak ada riuh ricuh di rumah. Dingin menyelimuti penghuni rumah hingga tertidur pulas. Tidak dengan Zakia. Di kamar, samping dipan, mukenah masih dipakainya, duduk antara dua sujud, tubuhnya menyandar ke dinding. Keduatangannya masih memegang Al-quran. Malam ini Zakia tak bisa tidur, berulang kali ia berdiri dan menatap langit dari jendela kamarnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya ke dipan dan membolak-balik tubuhnya, selimut telah berulang kali ia tutupkan ke wajahnya namun tak juga dia mampu menyerahkan diri pada malam. Seperti hendak memikirkan dan memutuskan sesuatu.

Lanjutkan membaca “Ayat-ayat Facebook”

Calo Kereta Api Masih Bergentayangan

Sudah hampir delapan tahun saya tidak berpergian menggunakan kereta api. Karena mendesak dan mendadak, saya terpaksa menggunakan jasa kereta api untuk pulang ke kampung. Undangan pernikahan yang mendadak membuat saya kangen berpergian dengan kereta api agar lebih santai dan nyaman. Semula saya berpikir akan nyaman menggunakan kereta api. Apa lagi perbaikan sistem pemesanan tiket sudah menggunakan sistem online atau datang langsung ke stasiun dengan menunjukan KTP.

Pagi-pagi sekali saya datang untuk mengantri tiket. Saya datang pukul 06.00, waktu yang cukup pagi untuk sekadar mengantri tiket. Ketika datang, saya melihat beberapa pemuda telah mengantri juga di depan loket antrian. Selang beberapa saat, bapak berbadan tinggi dan berjaket menghampiri saya untuk menawarkan tiket cepat. Saya langsung menebak “calo tiket masih bergentayangan”. Dengan tegas saya menolak. Kemudian saya mengantri di urutan ketujuh. Antrian di belakang saya sudah sangat panjang sampai ke pintu luar ruang loket. Padahal baru lima belas menit saya berdiri menunggu. Kembali mata saya tertuju kepada orang yang tadi menawari saya tiket cepat. Saya hanya menghela nafas melihat kelakuannya, ternyata dia tidak sendiri, ada beberapa orang yang berprofesi sama dengannya dan sedang melancarkan transaksi percaloan. Sepertinya dia tahu betul cela-cela kelemahan para pengantri.

Pukul 07.00  loket mulai buka. Petugas melayani pemesanan tiket. Tiket dibagikan, antrian pertama hampir menyita waktu dua puluh menit untuk satu orang. Petugas bisa melayani dengan waktu yang cukup lama. Ternyata, antrian yang paling depan merupakan bagian dari strategi percaloan. Pemuda ini sengaja datang pagi agar mendapat pelayanan pertama. Modusnya, calo akan mendekati pengantri yang paling belakang sampai ke tengah, dan di belakang saya. Lalu merayu pengantri, menjanjikan tiket cepat tanpa harus mengantri lama. Misalkan harga tiket lima belas ribu rupiah, maka calo akan meminta dua puluh ribu rupiah, lima ribu sebagai ongkos cepatnya. Andai terjadi kesepakatan maka KTP pengantri akan diambil calo dan diserahkan kepada pengantri yang terdepan. Walaupun petugas membatasi pembelian tiket sebanyak lima lembar saja. Begitulah seterusnya, pengantri kedua dan ketiga pun, ternyata suruan calo. Apabila pengantri terdepan yang disiapkan calo habis, maka calo akan mengintimdasi para pengantri yang lemah, berusia muda, dan lanjut usia untuk menitipkan karcis pengantri yang di belakang atau calon pembeli tiket yang datang terlambat untuk mengantri. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya petugas pengamanan dari stasiun kereta api untuk mengawasi para calo sehingga mereka dengan leluasa beroperasi. Saya melihat seperti terjadi pembiaran oleh pihak kereta api terhadap kondisi ini. Ditambah pengantri yang tidak sabar akan termakan hasutan calo. Ini juga salah satu penyebab calo selalu bergentayangan walaupun sistem pemebelian tiket sudah diatur sedemikian teratur untuk menghindari percaloan. Seperti simbiosis mutualisme antara calo dan pengantri yang tidak sabar. ini  mungkin salah satu faktor yang menyebabkan percaloan akan tetap abadi.

Salah satu pengantri di depan saya ternyata mengantri untuk yang keduakalinya.  Karena antrian pertama di hari Jumat tiket telah habis, padahal dia datang lebih awal. sedangkan orang yang mengantri jauh dibelakangnya kebagian tiket karena dibantu calo. Ini tentu tidak adil dan sebuah kecurangan. Pimpinan dan petugas kereta api selayaknya menghapus fenomena kecurangan dan percaloan ini dengan memasang sepanduk berisi himbauan di ruang loket tiket dan menyiagakan petugas keamanan, serta mengoptimalkan perlindungan dan pengawasan terhadap pengantri agar terbebas dari pengaruh calo. Kita sebagai warga negara punya peran penting untuk menciptakan kenyamanan dan menghapus percaloan dengan tidak meminta bantuan kepada calo. Kalau tidak, bangsa ini akan dikenal sebagai bangsa yang tidak tertib dan bangsa yang pelayanan publiknya akan semakin terburuk dan terparah di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat.

Batu raja, Sabtu, 3 November 2012